Headlines News :
Home » , » Belajar dari Air yang Mengalir

Belajar dari Air yang Mengalir

Written By Unknown on Jumat, 12 Februari 2016 | 09.30.00


AL-IDRISIYYAH | Ketika orang-orang masih asyik dengan selimutnya, Pondok Tarekat Al-Idrisiyyah, Tasikmalaya, sudah super sibuk. Rabu malam (27/01) para santri melepas kepergian Syekh Muhammad Fathurahman dan rombongan untuk melakukan Safari Dakwah ke Lampung.

Alhamdulillah tanpa halangan berarti, kami menginjak kaki di Bandar Lampung. Agenda pertamaadalah  tadabur alam di Taman Nasional Way Kambas , Kamis (28/02). Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di sebelah utara Lampung ini memang identik dengan gajah, walaupun sebetulnya taman nasional itu juga tempat hidup satwa langka seperti badak, harimau sumatera serta hewan langka lainnya. Taman Nasional yang sudah ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan dengan SK No. 670/Kpts-II/1999 itu merupakan taman nasional yang sudah terkenal ke mancanegara.

Daerah ini adalah tempat pusat latihan gajah Sumatera dan merupakan pusat latihan gajah pertama di Indonesia. Di tempat ini gajah-gajah liar Sumatera dilatih dan dimanfaatkan untuk pertunjukan seperti permainan sepak bola, berenang dan lain sebagainya. Pengunjung dapat menunggang gajah dengan didampingi pawang.

Taman Nasional Way Kambas mempunyai luas 125.621,3 hektar dan secara administratif pemerintahan terletak di Kab. Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera.
Kami mencoba fasilitas yang ada di Way Kambas, termasuk naik gajah!

Malam Jumatnya kami  melaksanakan pengajian di masjid Nurul Huda di Jalan Sultan Badaruddin II Kelurahan Susunan 2, Tanjung Karang Barat Bandar Lampung. 

Bada pengajian langsung menuju Danau Ranau Lampung Barat. Alhamdulillah, disambut adzan Subuh rombongan tiba di daerah Liwa. Pembaca tentu tahu daerah Liwa ini? Ya benar, daerah ini memang terkenal dengan gempa dahsyatnya, 15 Februari 1994.  Mengutip dari Wikipedia, saat kejadian, hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Tak kurang dari 196 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di Lampung Barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2000 orang. Rata-rata mereka tewas dan terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Berdasarkan informasi, jumlah penduduk yang kehilangan tempat tinggal hampir mencapai 75 ribu. Dampak gempa pun masih terasa sampai 40 kilometer dari ibu kota Kabupaten Lampung Barat tersebut. Sekarang yang tampak adalah pemukiman penduduk, perkantoran, dan sekolah dengan konstruksi bangunan antigempa. Kami menunaikan shalat Subuh di Masjid Al Manshur Liwa. 
Seakan berlomba dengan matahari pagi, langsung tekan pedal gas. Tiba di danau Ranau pukul 06 pagi, Jumat (29/02), Syekh M Fathurahman dan rombongan diundang dan dijamu di kediaman Pak Lurah setempat. Masya Allah, kami sangat terkesan dengan keramahan mereka dalam memuliakan tamu.

Syekh M Fathurahman menutup jamuan ini dengan doa untuk keselamatan bersama. Syekh M Fathurahman juga memanjatkan doa khusus untuk  kelancaran usaha Pak Sucipto. Beliau jamaah yang tinggal di lingkungan Danau Ranau. 
Bada shalat Jumat kami bersama Guru tercinta berenang di Danau Ranau. Masya Allah betapa indah dan akrabnya suasana ini, apalagi  Syekh  mangajak jamaah untuk makan siang di pinggir danau. Hmm … nikmatnya.

Di sekitar danau ada sumber air yang bersumber dari pegunungan sekitar danau dan air nya sangat jernih dan dingin sejuk menyegarkan. Syekh menyampaikan, bahwa sumber air yang belum tercemar ini ibarat ajaran agama yang murni yang bersumber dari silsilah yang haq. 

Alhamdulillah, kita mendapat bimbingan dari Guru Mursyid yang jelas silsilah keguruannya.
Setelah selesai makan siang, dilanjutkan dengan naik sampan bersama sang Nahkoda yang jauh-jauh kami datangkan dari Papua, dia tak lain, Pak Salik!

Momen-momen di danau ranau sungguh berkesan dan mengandung banyak hikmah di samping keindahannya yang masih sangat alami. Perlu diketahui bahwa danau Ranau terbentuk dari letusan gunung purba dan merupakan danau terbesar ke dua di Sumatera setelah danau Toba. Di sisi danau ranau berdiri kokoh gunung Seminung yang juga terbentuk dari ledakan gunung induknya.
Semoga suatu saat hikmah dari dakwah Syekh Fathurahman di danau ranau ini menjadikan zawiyah Lampung khususnya Lampung Barat semakin maju dalam mendakwahkan agama yang kaffah dan terbimbing.

Dan kita sebagai murid mudah-mudahan dikuatkan untuk terbuka mata hati sehingga senantiasa tergerak untuk. Mengikuti langkah perjuangan guru kita tercinta. Aamiin
Persiapan shalat maghrib di atas danau ditemani suara angin dan debur ombak danau.

Link Terkait: Dzikir Danau Ranau Lampung Barat
http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/620/zikir-danau-ranau-lampung-barat  

Esoknya Sabtu 30 jan 16 rombongan berkemas untuk kembali ke Tasikmalaya. Dalam perjalanan pulang ini kami singgah di desa Way Petai, Sumber Jaya, Lampung Barat untuk survei  tanah yang di wakafkan dari Bapak Haryadi seluas 4 hektar. Lokasi tanah dekat sungai dan saat ini lebih di manfaatkan untuk kebun kopi.

Alhamdulillah Syekh menerima tanah wakaf ini dan menetapkan untuk membuka usaha perkebunan, perternakan dan perikanan sebagai pondasi ekonomi untuk membangun cabang Pondok Pesantren Al Idrisiyyah.  Syekh juga menetapkan Ustad Abdul Rohim sebagai pengelola lahan. Kami panjatkan doa bersama untuk keberkahan dari pemberi wakaf dan seluruh keluarganya. Aamiin Allahuma Aamiin.

Persiapan jalan kembali menuju daerah tujuan lainnya di Sumber Jaya. Syekh dan rombongan meninggalkan Danau Ranau untuk menuju Sumber jaya
Syukur Alhamdulillah, perjalanan safari dakwah ke Lampung ini tidak menemui halangan. Sekitar pukul 09 WIB kami sudah sandar di pelabuhan merak dan langsung menuju Tasikmalaya. Tengah malam ketika hari sudah bergeser ke Sabtu (30/1), kami sudah tiba di Pondok Tarekat  Al-Idrisiyyah, Pagendingan, Tasimalaya. 

Ya Allah kami memohon padamu kebaikan dan takwa serta perbuatan yang Engkau ridhoi. Aamiin allahuma aamiin  | (imam/eko) 

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/627/belajar-dari-air-yang-mengalir
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog alidrisiyyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger