Headlines News :
Home » » Peserta Qini Nasional dari Negeri Sakura

Peserta Qini Nasional dari Negeri Sakura

Written By Saimin Satoto on Kamis, 01 September 2016 | 07.14.00

al-idrisiyyah.com | Tasikmalaya - Seorang mahasiswa dari negeri Sakura (Jepang) yang bernama Tomoya Takada datang dan hadir di Pondok Pesantren Al-Idrisiyyah pada hari Kamis (01/09/2016). Maksud kedatangan mahasiswa yang belum resmi menjadi muslim ini adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dirinya mengenai agama Islam.


Peserta Qini Nasional dari Negara Sakura
Syekh Muhammad Fathurahman sedang berdialog dengan Tomoya Takada





Syekh Muhammad Fathurahman M.Ag langsung menyambut dan berdialog ketika bertemu dengan Tomoya di Kamis pagi. Menurut penuturan Tomoya hasil dari dialog dengan Mursyid Al-Idrisiyyah, ia mendapatkan pencerahan dan pemahaman mengenai Islam dan bagaimana Allah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad. "Allah memberikan pesan kepada Nabi Muhammad" ungkapnya menggunakan bahasa indonesia dengan logat jepang.


Mahasiswa yang telah fasih berbahasa Indonesia ini menuturkan hasil diskusi dengan Syekh, dia mendapatkan pencerahan mengenai sejarah agama Islam serta mengenai bible dan kitab agama lain selain Al-Qur'an yang telah tercampur dengan pemikiran manusia.

Ustadz Adang Nurdin, M.Pd sebagai Kepala Divisi Pendidikan ditugaskan oleh Syekh untuk mengajak Tomoya berkeliling area pesantren. Ketika berada di Lembaga Pendidikan Al-Idrisiyyah, ia sempat kaget melihat siswi-siswinya menggunakan cadar.


Tomoya Takada yang berkunjung ke lembaga pendidikan Al-Idrisiyyah Boarding School (AIBS) | Foto: Deden Hidayatulloh

Mahasiswa yang baru berusia 23 tahun ini berbagi pengalaman dan pengetahuannya mengenai sistem pendidikan di Jepang, dan ia ungkapkan bahwa di negerinya proses belajar mengajar dimulai dari pukul 08:30 sampai dengan 17:30.

Ketertarikannya mahasiswa yang mengambil jurusan Hubungan Internasional ini terhadap Islam telah melahirkan sebuah keinginan untuk melanjutkan pendidikan S2-nya mengenai Pendidikan Islam di Indonesia.

Berawal dari Kampus Internasionalnya di Jepang yang mempertemukan ia dengan orang-orang diberbagai belahan dunia, ia mulai menyenangi dan ingin belajar bahasa indonesia serta budaya dan makanan Indonesia. "Kalau ingin belajar bahasa Indonesia datang saja ke Indonesia" ungkap dia menirukan perkataan temannya yang merupakan kejadian beberapa tahun lalu ketika ia mulai tergerak untuk berkunjung ke Indonesia.

Pada kesempatan pertama, ia datang ke Jogjakarta dan belajar budaya dan bahasa Indonesia secara Langsung disana sekitar tiga minggu lamanya.
Keseriusannya untuk belajar bahasa Indonesia dan budaya Indonesia akhirnya memutuskan ia untuk mengambil cuti kuliah selama satu setengah tahun, yang digunakan untuk mengikuti program bahasa Indonesia dan menggiringnya menuju Ibu Kota Indonesia Jakarta.

Waktu cuti kuliah ia manfaatkan juga untuk mengajarkan bahasa Jepang ke masyarakat Indonesia. Di tempat kursus inilah Allah pertemukan dia dengan salah seorang alumni Pesantren Al-Idrisiyyah yang bernama Dara Harnum Sari.
Pertanyaan dan rasa ingin tahunya tentang Islam yang tidak diungkapkan dari sejak kapan munculnya, kemudian ia curahkan kepada Dara. Pertanyaan yang makin mendalam tentang Islam membuat Dara mengajak Tomoya untuk bertemu dengan ayahnya. 

Hubungan antara Tomoya, Dara dan Heriyanto yang merupakan ayah dari Dara mulai terjalin dengan baik. Menurut Heriyanto ketika ditemui di hari Kamis (01/09/2016), sekitar dua tahun yang lalu dia pernah mengajak Tomoya ke majlis taklim Al-Idrisiyyah yang berada di Zawiyah Utama Jakarta. 
"Disana Saya pertama kali belajar sholat" ungkap Tomoya mengenang ia pertama kali ke majlis Al-Idrisiyyah.

Setelah selesai masa cuti, Tomoya kembali melanjutkan kuliahnya di Jepang. Pertanyaan dan rasa ingin tahu mengenai Islam terus bergemuruh dan ia terus jalin komunikasi dengan Dara untuk mencari jawabannya. 
"Anak Saya yang ke-3, Dara Harnum Sari mondok disini (red: Al-Idrisiyyah) 4 tahun" ungkap Heriyanto memperkenalkan identitas anaknya.

Ketika datang kesempatan libur kuliah di bulan agustus dan september 2016, Tomoya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk kembali ke Indonesia dan mencari jawaban mengenai Islam. "Pertanyaan banyak, ini kenapa? itu kenapa?" ungkap Tomoya.
Dara akhirnya menunjukan ustadz atau imam yang dapat menjawab semua pertanyaan dirinya. "Dia (red: Dara) bilang imamnya berasal dari Tasik" jelas Tomoya.

Heriyanto yang akan berangkat ke Tasikmalaya pada hari Rabu (31/08/2016) untuk mengikuti acara Qini Nasional ke-132, ia manfaatkan untuk mengajak Tomoya agar dapat bertemu dengan Syekh Muhammad Fathurahman.

Setelah bertemu Syekh Muhammad Fathurahman dan mengenal lingkungan Al-Idrisiyyah ditambah dorongan untuk mempelajari islam, akhirnya Tomoya Takada memutuskan untuk mengikuti Qini Nasional sampai akhir. Tomoya yang belum pernah beragama sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa Islam adalah sebenar-benarnya agama, dan agama itu untuk mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. "Agama untuk tenang, bahagia" ungkapnya.

"Saya ingin tahu mana hal yang baik, mana hal yang buruk" ungkap Tomoya menegaskan keinginannya untuk mengikuti Qini Nasional ke-132. | (uu)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/837/peserta-qini-nasional-dari-negeri-sakura


Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Al-Idrisiyyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger