Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

SIARAN LANGSUNG

Populer Posts

Tampilkan postingan dengan label KeIhsanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KeIhsanan. Tampilkan semua postingan

Efek Pembersihan Batin

al-idrisiyyah.com | Berikut ini salah satu karamah Umar bin Al Khattab Ra. Diriwayatkan, sesungguhnya Ali bin Abi Thalib Ra berkata:
"Suatu malam, aku bermimpi melihat Nabi Saw, ketika itu Beliau Saw membawa nampan yang berisi kurma. Maka aku mengambil satu buah kurma & aku memakannya. Aku mendapatkan rasa manisnya melebihi kurma biasanya. Maka aku berkata: tambahi aku ya Rasul! Akan tetapi sebelum Nabi menambahi kurma tersebut, terdengar suara adzan shalat subuh. Maka aku pun terbangun sebelum Nabi menambahi kurma atas diriku.
Efek Pembersihan Batin

Maka aku pun berwudhu, lalu aku keluar menuju masjid. Dan ketika itu masa kepemimpinan Umar bin Al-Khattab Ra. 
Setelah kami shalat subuh di belakang Amirul mukminin Umar Ra, aku beranjak pergi. Ketika aku keluar dari masjid, ada seorang perempuan di pintu masjid yang menghentikanku.
Dan sang perempuan tersebut berkata: 'Wahai Ali, ambillah nampan yang berisi kurma ini dan berikan kepada Amirul mukminin!' Maka aku pun memberikan nampan yang berisi kurma tersebut kepada Umar Ra. 
Umar Ra pun mengambil nampan tersebut, lalu Beliau memberikan kepadaku 1 kurma. Maka ketika terasa di mulutku, manisnya kurma tersebut melebihi dari madu. Lalu aku berkata: 'tambahilah untuk-ku!'

Maka berkata Umar Ra: 'Andai saja Rasulullah Saw menambahkan atasmu, niscaya aku pun akan menambahimu.'
Begitu terkejutnya Ali Ra. dan
Beliau mendekat kepada Umar Ra seraya berkata: 'Apa yang engkau ucapkan wahai amirul mukminin?'
Berkata Umar Ra.: 'Andai saja Rasul Saw menambahi atas dirimu, niscaya aku pun akan menambahi dirimu.'
Maka berkata Sayyiduna 'Ali: 'Apakah maksudnya ini wahai Amirul mukminin? Apakah adakah hal ghaib yang telah engkau lihat atau mimpi yang engkau lihat di dalam mimpi?'

والله ما هو غيب و لا رؤيا و لكنها القلوب يا علي....  إذا صفت رأت بنور الله....

Berkata Umar Ra: 'Demi Allah, bukanlah ini urusan yang ghaib & bukan pula ini merupakan mimpi, akan tetapi ini adalah urusan hati. Wahai 'Ali, jika hati manusia telah suci niscaya hati tersebut akan melihat dengan cahaya Allah!'
Nabi Saw Mu bersabda:

اتقوا فراسة المؤمن فإنه يرى بنور الله....

Takut-lah kamu sekalian (hati-hatilah) dengan pandangan hati seorang mukmin, karena sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.
Di sinilah pentingnya mempelajari ilmu tentang batin (hati) yang terangkum dalam bingkai ilmu tasawuf. Karena di dalamnya dipelajari bagaimana melakukan Tazkiyah An Nafs (membersihkan jiwa) dan merawatnya agar cahaya Allah menyinari hatinya.
Bagaimana mereka bisa sampai pada kedudukan yang mulia ini?

Tiada lain dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu tasawuf (yang membahas tentang hati) di bawah bimbingan seorang Wali Mursyid. Bukan dengan ilmu lainnya!
Jika dikatakan para sahabat tidak mempelajari ilmu tasawuf, memang para sahabat tidak mempelajari tasawuf. Demikian pula para sahabat juga tidak mempelajari ilmu fikih, ilmu tauhid, atau ilmu-ilmu lainnya. Karena spesifikasi ilmu terjadi setelah masa sahabat Nabi Saw.

Masa sahabat yang dekat dengan kehidupan Rasulullah Saw masih memiliki sinar petunjuk yang terang. Sehingga bimbingan petunjuk Rasulullah Saw masih kuat dirasakan. Berbeda dengan beberapa abad setelah itu. Apalagi 14 abad telah berlalu. Mempelajari dan mendalami ilmu tasawuf kepada ahlinya sangat urgen sekali. Sebab penyakit batin telah berkembang sedemikian rupa sebagaimana penyakit fisik. | (lq)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/853/efek-pembersihan-batin

Menyibak Wasilah di Balik Makna Al Waliy

al-Idrisiyyah.com | Nama Wali (الولي) tidak ditujukan hanya kepada Allah SWT, tapi juga kepada petugas-Nya. Dalam rangka melindungi agama-Nya maka Allah SWT tugaskan orang yang melindungi agama-Nya. 
Sosok pilihan-Nya tersebut merupakan kepanjangan tangan dalam melindungi agama-Nya. Dia Allah SWT adalah Al Waliy.

Padanan kata Al Waliy itu sebenarnya bukan kekasih, tapi tepatnya pelindung. Awliyaa Allah berasal dari isim fa’il (subyek) yang diidhafatkan (disandarkan) kepada Allah SWT sebagai maf’ul (obyek). 
Tidak cocok bahkan rancu, apabila Al Waliy diartikan dengan ‘kekasih’. Subyek mesti disandarkan kepada obyek, sehingga dalam kalimat Awliya Allah mengandung arti menolong Allah SWT, yakni agama-Nya.

Dengan menggunakan kata jamak: Awliya,
Mufrad atau kata tunggal dari Waliy
Maka Wali Mursyid yang ada di setiap masa itu bertingkat-tingkat. Sedangkan Wali Mursyid yang berposisi sebagai khalifah, penerima dan penyampai ajaran agama yang komprehensif (utuh) hanya ada satu di setiap masa.
 
Dalam Al Quran disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوا كُوْنُوْا أَنْصَارَ اللَّهِ 
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah penolong Allah!” (QS Ash-Shaff [61]: 14)

Maksudnya adalah penolong agama-Nya. Jika menilai secara harfiyah saja akan sulit mencerna kandungan ayat tersebut, karena tidak mungkin manusia menolong Allah SWT!
Allah sebagai Al Waliy (pelindung), tidaklah melindungi secara langsung. Allah sebagai An Nashir (penolong), tidaklah menolong secara langsung. Allah sebagai Al Haadi (pemberi petunjuk), tidaklah menunjuki secara langsung. 
Wali Mursyid yang dipilih Allah di setiap zaman itu memiliki banyak nama sebagai (Al Waliy, An Nashir, Al Hadi, dan seterusnya) karena banyak tugasnya. 
Sebagaimana Allah memiliki banyak sifat-Nya karena banyak pula nama-Nya. Mereka yang berpaham aqidah dengan menjauhi keberadaan wasilah tidak akan memahami hal ini.
Allah Al Hadi, Yang memberikan petunjuk, bukan berarti Dia mengajarkan manusia secara langsung. Orang-orang pilihan disebut juga Al Hadi.
 
Lihat ayat Al Quran: “Setiap kaum terdapat orang yang memberikan petunjuk.” (QS Ar Ra’d [13]: 7)

Di ayat tersebut, ada kaitannya dengan pembahasan wasilah. Ketika Allah SWT membimbing manusia, tidaklah bersifat langsung. 
Lihatlah dalam catatan sejarah, bagaimana Allah SWT memberikan pertolongan dan perlindungan kepada Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar Ra di gua Tsur. Allah menjadikan wasilah burung merpati dan laba-laba. Burung bertelur di depan mulut gua dan laba-laba membuat sarangnya. 
Kesimpulannya, Allah SWT menggunakan wasilah apapun yang dikehendaki-Nya, bahkan kepada hewan sekalipun.

Bersama: Syekh Muhammad Fathurahman, MAg
Sumber: Mutiara Siang, Jumat 26 Agustus 2016, http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/828/menyibak-wasilah-di-balik-makna-al-waliy.

Al Waliy (Yang Melindungi)

al-idrisiyyah.com | Allah Swt mengajarkan umat manusia khususnya orang-orang yang beriman untuk mengenal-Nya. Al Quran al Karim secara lengkap memperkenalkan Sifat-sifat Allah yang sempurna, sekaligus menjadi Nama-nama-Nya yang indah. Salah satu nama yang disebut di dalam Al Quran adalah Al Waliyyu (الْوَلِيُّ) yang mengandung arti Yang Memelihara atau Yang Melindungi.
Khutbah Jumat Syekh Muhammad Fathurahman M.Ag

Dalam kajian tasawuf, secara khusus Allah melindungi Agama yang diturunkan kepada umat manusia sekaligus orang-orang berpegang teguh dengan agama-Nya. Karena agama akan mengalami rongrongan setiap zamannya.
Iblis telah mendeklarasikan diri untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah, لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. la-uzayyinanna lahum fil ardhi wa la-ughwiyannahum ajma’iin (Q.S. Al Hijir: 39) Karena peran Iblis inilah pemahaman agama yang terkandung di dalamnya menjadi terkikis. Termasuk faktor yang merusak nilai-nilai agama Allah yang sempurna adalah hawa nafsu manusia itu sendiri.
Rasulullah Saw sebagai pembawa risalah agama juga dilindungi Allah Swt, Al Waliy. Dalam beberapa ayat Allah meluruskan dan melindunginya agar agama tidak tercampur dengan hawa nafsu yang membawanya. Sebab ajaran agama bersifat murni (khalish),
 
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ.
Walaa tattabi'il hawa fayudhilluuka ’an sabiilillaah (Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, maka akan menyesatkanmu dari jalan Allah!) [Q.S. Shad: 26]

وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ.
Walaa tattabi' ahwaa-ahum (Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka!) [Q.S. Al Maidah: 48]

Demikianlah bentuk perlindungan Allah terhadap agama-Nya sebagai Al Waliyyu, agar petunjuk manusia tetap murni dan terpelihara/terjaga sepanjang zaman.

Dalam Surat Al A'raf, ayat 196 disebutkan,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ.
Inna waliyyiyallaahul ladzii nazzalal kitaaba wahuwa yatawallash shoolihiin (Sesungguhnya Wali [pelindung Agama] Allah adalah mereka yang telah diturunkan kitab dan Dia-lah yang melindungi orang-orang yang saleh).

Proses agama dilindungi oleh Allah adalah dengan cara menurunkan figur pilihan yang layak menerima dan menyampaikan agama kepada umat/kaumnya. Maka sifat Al Waliyyu yakni melindungi agama pun diturunkan kepada orang pilihan itu agar agama terlindung dengannya.

Firman Allah Swt: "Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka ia termasuk orang yang layak mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang tersesat maka engkau tidak akan pernah mendapatkan baginya seorang Wali yang Mursyid". (QS. Al Kahfi: 17)
Kesesatan di sini timbul karena 2 faktor, Iblis dan nafsu yang tidak dididik (dengan mujahadah). Iblis akan menghiasi kebatilan menjadi seperti kebenaran. Ayat tersebut amat jelas bahwa ada seorang ditugaskan untuk melindungi agama Allah sekaligus diajarkan kepada umat manusia.
Wali Mursyid ada pada di setiap zaman, sebagai bentuk perlindungan Allah kepada Agama-Nya. Allah Swt menurunkan agama sekaligus melindunginya dengan menurunkan figur pilihan yang menyampaikannya. Betapa mulia Allah dengan menurunkan agama yang tidak tercampur oleh hawa nafsu manusia dan Iblis. Inilah nikmat Allah yang sempurna bagi umat manusia.
Rasulullah Saw mengajarkan dalam doa qunut, وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ Watawallanaa fiiman tawallayt (Ya Allah lindungilah kami (dalam menjalankan agama) beserta orang-orang yang Engkau lindungi (yang berpegang teguh [istiqamah] dalam menjalankan agama)!
Semoga kita termasuk menjadi orang-orang yang masuk ke dalam kategori doa tersebut! | (saf)

Oleh: Syekh Muhammad Fathurahman, MAg
Sumber: Khutbah Jum’at, 26 Agustus 2016, http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/829/al-waliy-yang-melindungi.

Pentingnya Wasilah

al-Idrisiyyah.com | Bismillahi tawakaltu 'Alallah... Mursyid Tarekat Al-Idrisiyyah Syekh Muhammad Fathurahman hari Sabtu (13/8/2016), berangkat untuk melakukan Safari Dakwah ke Hongkong. Hakikatnya setiap perjalanan selalu ada nilai perjuangan. Dan selalu ada cerita untuk menjadi pelajaran.
 

Seperti membuka perjalanan ke Hongkong kali ini, Syekh Muhammad Fathurahman menyampaikan mutiara katanya, “Dalam setiap hal akan selalu ada wasilah.” 

Wasilah di bandara, tambah Syekh M. Fathurahman, ada beberapa murid seperti Ibu Ruly dan Bapak Afip yang menjadi wasilah Rombongan Al-Idrisiyyah untuk dapat lebih memudahkan proses di bandara.
Nah, untuk wasilah umat atau murid kepada Allah maka, Al Ulama akan  yang menjadi wasilahnya. “Adanya Guru Pembimbing agar dimudahkan untuk melalui proses ibadah kepada Allah SWT,” jelas Syekh M. Fathurahman.

Subhanallah, betapa pentingnya wasilah untuk kita semua. | (Eko)

Sumber: http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/808/pentingnya-wasilah

 

Pengumuman

Safari Dakwah
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog alidrisiyyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger