Tampilkan postingan dengan label Safari Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safari Dakwah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

Ajari Anak-Anakmu Berenang


“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”
(Shahih Bukhari – Muslim)

Al-Idrisiyyah | Safari Dakwah di Temanggung, berlangsung di Plaza Pikatan Water Park. Karena lokasinya di Water Park, maka Syekh Muhammad Fathurahman menyempatkan diri untuk berenang . Ketika sedang asyik berenang datanglah pelatih.
Sang pelatih mempraktikkan beberapa gaya renang, seperti gaya bebas, kupu-kupu dan katak. Dia juga menjawab pertanyaan dengan praktik langsung. Kehadirannya mengoreksi gerakan renang kami. Gerak-gerik si pelatih renang itu terekam dalam benak masing-masing yang menyaksikan.  
Bagi Syekh Muhammad Fathurahman ternyata hal ini seperti aktivitas zikir, yakni membayangkan bagaimana bimbingan Si Instruktur ketika melatih renang. Jadi agar semangat dalam berzikir kita bayangkan sosok instrukturnya, seperti cara dia memberi semangat, memotivasi. Bayangkan kibasan tangan, ayunan punggung dan hentakan kakinya. 

“Ternyata, untuk renang agar gerakannya bagus kita membayangkan wajah pelatih. Maka begitu pula dalam zikir, agar tercapai tujuan maka bayangkan wajah mursyid,” kata Syekh Muhammad Fathurahman. 

Jadi, untuk renang di kolam saja butuh instruktur pembimbing, apalagi untuk mengarungi samudera kehidupan tentunya kita jauh lebih butuh adanya sosok pembimbing.
Supaya hati kita lurus pada Allah SWT, maka ingat-ingatlah bimbingan guru kita, nasihatnya dan kebaikannya. Itu akan menjadi wasilah kepada Allah SWT, sehingga zikir itu akan sampai kepada Allah SWT.

Mintalah bimbingan kepadanya. Karena guru sebagai pembimbing, maka mintalah bimbingan secara bathiniahnya (istimdad).

Perumpamaan ini sama seperti kita sedang sakit, syariatnya berobat kepada dokter, tapi mohon kesembuhannya kepada Allah SWT. 
Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!” (QS At-Taubah: 119)

“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43) | (Salman Al Farizi)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/637/ajari-anak-anakmu-berenang

Sabtu, 20 Februari 2016

Jangan Biarkan Waktu Berlalu tanpa Zikir

Al-Idrisiyyah| Hati jamaah Al-Idrisiyyah Temanggung khususnya dan seantero Jawa Tengah (Magelang Yogya dan Jepara) merasa lega karena Syekh Muhammad Fathurahman bisa hadir di tengah-tengah mereka. Kehadiran Syekh Muhammad Fathurahman ini dalam rangka Safari Dakwah ini menghapus kerinduan mereka.
     
Zawiyah Temanggung yang menjadi panitia menggelar Acara Majelis zikir  di Plaza Pikatan Water Park Temanggung Jawa Tengah, Jumat (12/02/2016). Dalam ceramahnya Syekh Muhammad Fathurahman mengatakan, majelis zikir  ini adalah majelis yang selalu dicari para malaikat. Allah perintahkan Malaikat Sayaroh namanya, untuk mencari majelis zikir di bumi. 

“Cari majelis ilmu, majelis zikir dan dengar apa permohonan mereka, maka Aku (Allah) akan mengabulkan permohonan mereka,” kata Syekh Muhammad Fathurahman.

Syekh Muhammad Fathurahman menyampaikan, majelis ilmu dan majelis zikir inilah yang akan menggugurkan dosa-dosa, membuka mata hati dan mendekatkan hamba dengan Allah SWT.
“Maka majelis seperti ini tidak bisa diukur dengan harta, kekayaan dan materi. Sebab masuk dalam kategori mawahib, anugerah Allah SWT,” jelasnya.


Syekh Muhammad Fathurahman Alhamdulillah Allah SWT telah mengumpulkan kita di majelis ini, sebab ibadah dengan hati yang ikhlas maka akan menjadi nikmat. Sebaliknya kalau ibadah kepada Allah tanpa hati yang ikhlas, maka akan pahit rasanya. Seluruh aktivitas kita harus berada dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat [51]: 56)

Syekh Muhammad Fathurahman menguraikan, maka mengaji harus menjadi ibadah, bekerja, olahraga, sampai tidurnya harus menjadi ibadah.  Mengapa? Karena kita hidup di bumi ini terbatas waktunya. Nabi saw bersabda, rata-rata usia umatku antara 60-70 tahun. Nabi saw 63 tahun. Kalau kita berada diantara usia itu, maka jangan ada waktu yang terbuang.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallohu 'Anhu dari Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu” ini adalah hadits yang shahih, dikeluarkan oleh Imam at-Turmudzi (3550), Ibnu Majah (4236), Ibnu Hibban (II:96), al-Hakim (II:427).

Tidak ada penyesalan bagi ahli surga kecuali satu jam saja tidak dipakai zikir. Satu jam hati tidak nyambung kepada Allah SWT, itu menjadikan penyesalan bagi penduduk surga. Imam Thabrani dalam Hadis Hasan Shahihnya pernah menulis sepenggal kisah tentang surga. Surga digambarkan mempunyai tingkatan-tingkatan yang luasnya seluas langit dan bumi.

Suatu kali, setetes minyak harum dari seorang penduduk surga yang berada di atas jatuh menetes ke surga yang ada di bawahnya. Kejadian itu menghebohkan seisi surga yang ada di bawah. Pasalnya, aroma harum dari setetes minyak harum tersebut mengalahkan wangi-wangian seisi jagad di surga bawah itu. Penduduk surga yang ada di bawah bertanya-tanya, dari manakah wangi harum itu? Semerbak wangi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Dijawablah oleh malaikat penjaga surga, aroma yang sangat harum itu berasal dari tetesan minyak wangi dari seorang penduduk surga yang tinggal di atas mereka. Penduduk surga bawah itu pun makin penasaran, apa yang membuat orang tersebut bisa memasuki surga yang ada di atasnya? Betapa mulianya orang itu, hingga ditempatkan di surga yang ada di bagian atas.
Malaikat pun menjawab. Amal ibadah si pemilik parfum itu pada dasarnya sama dengan orang-orang yang ada di surga bagian bawah. "Namun bedanya, si pemilik parfum itu memiliki zikir yang lebih banyak dari engkau sebanyak satu kali. Maka ia pun ditempatkan di surga yang lebih tinggi," lanjut malaikat itu.

Saat itu, penyesalanlah yang meliputi penduduk surga yang di bawah. Mereka menyesal, mengapa sewaktu di dunia mereka menyia-nyiakan waktu. Andaikan saja, mereka mau lebih banyak untuk berzikir dan beribadah, tentu mereka bisa ditempatkan di surga yang lebih tinggi.

“Nah, bagaimana kalau puluhan tahun tidak ingat kepada Allah SWT? 
Apakah ketika menyaksikan sinetron Anda ingat kepada Allah SWT? Padahal berapa jam nonton sinetron? “ kata Syekh Muhammad Fathurahman mengingatkan.

Dalam uraiannya, Syekh Muhammad Fathurahman mengatakan,  Setan menggelincirkan manusia langsung dari sumbernya. Seperti air, dari dataran tinggi ke dataran rendah. Iblis langsung merusak ajaran Islam dari sumbernya, tidak ada nabi atau rasul yang ketika menerima wahyu maka setan dan iblis berupaya agar wahyu itu berkurang, bertambah atau rusak. 

Tapi, Allah SWT menjaga langsung, sehingga wahyu itu sampai kepada nabi dalam keadaan orisinil. Karena lewat sumbernya langsung tidak bisa, maka setan menggoda lewat umatnya. Jadi ketika mendengarkan pengajian, maka jamaah pun mengantuk atau malas agar bimbingan wahyu itu tidak sampai. 

“Ingat, setan terus berupaya agar ilmu itu tidak sampai ke hati,” kata Syekh Muhammad kembali mengingatkan. | (SALMAN AL FARIZI)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/634/jangan-biarkan-waktu-berlalu-tanpa-zikir

Jumat, 12 Februari 2016

Belajar dari Air yang Mengalir


AL-IDRISIYYAH | Ketika orang-orang masih asyik dengan selimutnya, Pondok Tarekat Al-Idrisiyyah, Tasikmalaya, sudah super sibuk. Rabu malam (27/01) para santri melepas kepergian Syekh Muhammad Fathurahman dan rombongan untuk melakukan Safari Dakwah ke Lampung.

Alhamdulillah tanpa halangan berarti, kami menginjak kaki di Bandar Lampung. Agenda pertamaadalah  tadabur alam di Taman Nasional Way Kambas , Kamis (28/02). Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di sebelah utara Lampung ini memang identik dengan gajah, walaupun sebetulnya taman nasional itu juga tempat hidup satwa langka seperti badak, harimau sumatera serta hewan langka lainnya. Taman Nasional yang sudah ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan dengan SK No. 670/Kpts-II/1999 itu merupakan taman nasional yang sudah terkenal ke mancanegara.

Daerah ini adalah tempat pusat latihan gajah Sumatera dan merupakan pusat latihan gajah pertama di Indonesia. Di tempat ini gajah-gajah liar Sumatera dilatih dan dimanfaatkan untuk pertunjukan seperti permainan sepak bola, berenang dan lain sebagainya. Pengunjung dapat menunggang gajah dengan didampingi pawang.

Taman Nasional Way Kambas mempunyai luas 125.621,3 hektar dan secara administratif pemerintahan terletak di Kab. Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera.
Kami mencoba fasilitas yang ada di Way Kambas, termasuk naik gajah!

Malam Jumatnya kami  melaksanakan pengajian di masjid Nurul Huda di Jalan Sultan Badaruddin II Kelurahan Susunan 2, Tanjung Karang Barat Bandar Lampung. 

Bada pengajian langsung menuju Danau Ranau Lampung Barat. Alhamdulillah, disambut adzan Subuh rombongan tiba di daerah Liwa. Pembaca tentu tahu daerah Liwa ini? Ya benar, daerah ini memang terkenal dengan gempa dahsyatnya, 15 Februari 1994.  Mengutip dari Wikipedia, saat kejadian, hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Tak kurang dari 196 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di Lampung Barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2000 orang. Rata-rata mereka tewas dan terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Berdasarkan informasi, jumlah penduduk yang kehilangan tempat tinggal hampir mencapai 75 ribu. Dampak gempa pun masih terasa sampai 40 kilometer dari ibu kota Kabupaten Lampung Barat tersebut. Sekarang yang tampak adalah pemukiman penduduk, perkantoran, dan sekolah dengan konstruksi bangunan antigempa. Kami menunaikan shalat Subuh di Masjid Al Manshur Liwa. 
Seakan berlomba dengan matahari pagi, langsung tekan pedal gas. Tiba di danau Ranau pukul 06 pagi, Jumat (29/02), Syekh M Fathurahman dan rombongan diundang dan dijamu di kediaman Pak Lurah setempat. Masya Allah, kami sangat terkesan dengan keramahan mereka dalam memuliakan tamu.

Syekh M Fathurahman menutup jamuan ini dengan doa untuk keselamatan bersama. Syekh M Fathurahman juga memanjatkan doa khusus untuk  kelancaran usaha Pak Sucipto. Beliau jamaah yang tinggal di lingkungan Danau Ranau. 
Bada shalat Jumat kami bersama Guru tercinta berenang di Danau Ranau. Masya Allah betapa indah dan akrabnya suasana ini, apalagi  Syekh  mangajak jamaah untuk makan siang di pinggir danau. Hmm … nikmatnya.

Di sekitar danau ada sumber air yang bersumber dari pegunungan sekitar danau dan air nya sangat jernih dan dingin sejuk menyegarkan. Syekh menyampaikan, bahwa sumber air yang belum tercemar ini ibarat ajaran agama yang murni yang bersumber dari silsilah yang haq. 

Alhamdulillah, kita mendapat bimbingan dari Guru Mursyid yang jelas silsilah keguruannya.
Setelah selesai makan siang, dilanjutkan dengan naik sampan bersama sang Nahkoda yang jauh-jauh kami datangkan dari Papua, dia tak lain, Pak Salik!

Momen-momen di danau ranau sungguh berkesan dan mengandung banyak hikmah di samping keindahannya yang masih sangat alami. Perlu diketahui bahwa danau Ranau terbentuk dari letusan gunung purba dan merupakan danau terbesar ke dua di Sumatera setelah danau Toba. Di sisi danau ranau berdiri kokoh gunung Seminung yang juga terbentuk dari ledakan gunung induknya.
Semoga suatu saat hikmah dari dakwah Syekh Fathurahman di danau ranau ini menjadikan zawiyah Lampung khususnya Lampung Barat semakin maju dalam mendakwahkan agama yang kaffah dan terbimbing.

Dan kita sebagai murid mudah-mudahan dikuatkan untuk terbuka mata hati sehingga senantiasa tergerak untuk. Mengikuti langkah perjuangan guru kita tercinta. Aamiin
Persiapan shalat maghrib di atas danau ditemani suara angin dan debur ombak danau.

Link Terkait: Dzikir Danau Ranau Lampung Barat
http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/620/zikir-danau-ranau-lampung-barat  

Esoknya Sabtu 30 jan 16 rombongan berkemas untuk kembali ke Tasikmalaya. Dalam perjalanan pulang ini kami singgah di desa Way Petai, Sumber Jaya, Lampung Barat untuk survei  tanah yang di wakafkan dari Bapak Haryadi seluas 4 hektar. Lokasi tanah dekat sungai dan saat ini lebih di manfaatkan untuk kebun kopi.

Alhamdulillah Syekh menerima tanah wakaf ini dan menetapkan untuk membuka usaha perkebunan, perternakan dan perikanan sebagai pondasi ekonomi untuk membangun cabang Pondok Pesantren Al Idrisiyyah.  Syekh juga menetapkan Ustad Abdul Rohim sebagai pengelola lahan. Kami panjatkan doa bersama untuk keberkahan dari pemberi wakaf dan seluruh keluarganya. Aamiin Allahuma Aamiin.

Persiapan jalan kembali menuju daerah tujuan lainnya di Sumber Jaya. Syekh dan rombongan meninggalkan Danau Ranau untuk menuju Sumber jaya
Syukur Alhamdulillah, perjalanan safari dakwah ke Lampung ini tidak menemui halangan. Sekitar pukul 09 WIB kami sudah sandar di pelabuhan merak dan langsung menuju Tasikmalaya. Tengah malam ketika hari sudah bergeser ke Sabtu (30/1), kami sudah tiba di Pondok Tarekat  Al-Idrisiyyah, Pagendingan, Tasimalaya. 

Ya Allah kami memohon padamu kebaikan dan takwa serta perbuatan yang Engkau ridhoi. Aamiin allahuma aamiin  | (imam/eko) 

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/627/belajar-dari-air-yang-mengalir

Minggu, 07 Februari 2016

Hidupkan Hati yang Mati


Seluruh Tindakan Manusia Bersumber dari Hatinya

al-idrisiyyah.com | BOGOR - Bulan kelahiran Nabi Muhammad saw memang telah berlalu,  tapi semangat peringatannya terus bergema. Suasana inilah yang  tampak di Mushola Al-Magfirrah, Desa Ciriung, Cibinong, Bogor, di sini Jamaah Al-Idrisiyyah dari Cibinong dan beberapa daerah lainnya seperti Tangerang, Jakarta dan Tasikmalaya berbaur dengan penduduk setempat.

Acara dimulai sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (05/02), diawali dengan sambutan-sambutan. Ketua RW setempat yang menyampaikan sambutan, mengajak kepada panitia penyelenggara untuk mendidik generasi muda agar menuntut ilmu yang benar, tidak terbawa ajaran yang sesat seperti Gafatar. “Mari didik generasi muda agar tidak terlibat narkoba!” tegasnya.

Setelah pelantunan ayat suci Al-Qur'an, tahapan acara memasuki acara inti, tausiah yang disampaikan Syekh Muhammad Fathurrahman M. Ag.

Syekh M Fathurahman membuka ceramah dengan cerita Malik bin Dinar. Dia seorang tokoh sufi yang pada awalnya ahli maksiat. Pada suatu malam ketika ia akan melakukan kemaksiatan, ditengah perjalanan ia mendengar bacaan Al-Qur'an dari sebuah gubuk
.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadiid [57] : 16)

Bergetarlah seluruh tubuh Malik bin Dinar, serta Luluhlah hatinya. Momen ini menjadi titik balik bagi Malik bin Dinar. Dari situ ia bertekad mencari guru untuk belajar agama, sampai akhirnya menjadi tokoh sufi yang terkenal.

Dari cerita tersebut Syekh Muhammad Fathurrahman menjelaskan, jangan putus asa apalagi sampai menyebutkan, “Kepalang tanggung dalam kemaksiatan!”
“Seluruh tindakan manusia bersumber dari hatinya,” ungkap Syekh Muhammad Fathurrahman melanjutkan tausiahnya.

Ini selaras dengan sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.”

Selanjutnya Syekh menyebutkan, orinisilitas hati adalah cahaya. Kebutuhannya adalah kepada Allah SWT dan hati itu akan menyuarakan kebenaran dan kebaikan. Setiap orang bisa saja membohongi orang lain akan tetapi dia tidak akan bisa berbohong kepada hatinya sendiri.

Ada tiga faktor yang membuat hati manusia menjadi keras.

Pertama, banyaknya gambaran-gambaran dunia didalam diri sendiri atau cinta dunia berlebihan. Boleh saja mencintai dunia akan tetapi jangan melebihi cinta kepada Allah SWT.
Tafakur adalah solusi untuk mengatasi cinta berlebihan kepada dunia. Bertafakur mengenai sifat materi atau dunia, sifat materi itu tidak akan abadi. Materi itu akan rusak, usang dan siapapun akan berpisah dengannya. Semakin dunia itu kita cintai maka kita akan menangis, kita akan bersedih ketika berpisah nanti.

Hati yang bersama Allah akan senantiasa bahagia. Semakin dekat waktunya berpisah dengan dunia ini, dia akan merasakan semakin bahagia. Karena ia akan berjumpa dengan yang dicintainya, yaitu Allah SWT.

Kedua, karena hatinya lalai (goflah), hatinya tidak dilatih untuk zikir kepada Allah SWT. Istiqomah dalam membaca wirid. Wirid setelah shalat wajib merupakan solusi agar hati manusia tidak lalai.

Ketiga, hawa nafsu yang berlebihan. Solusinya adalah belajar menekan hawa nafsu. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, yang artinya "Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa"

Sebaliknya tanda-tanda hati yang dihidupkan oleh Allah SWT adalah dia akan dijaga oleh Allah dari tipu daya dunia, selalu berharap atau bercita-cita kepada negeri akhirat, dan banyak mengingat kematian.

Acara maulid ini diakhiri dengan muhasabah dan do'a oleh Syekh Muhammad Fathurrahman M.Ag.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari tausyiah ini dan senantiasa diberi kemampuan untuk menghidupkan hati kita. Aamiin Ya rabbal alamin. (Huzen)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/624/hidupkan-hati-yang-mati

Sabtu, 30 Januari 2016

Zikir Danau Ranau Lampung Barat


Ketika Syekh Fathurahman Meninjau Danau Ranau

Al-Idrisiyyah| Gelap malam melipat matahari, senja di kesempatan Jumat (30/1) itu perlahan berlalu. Shalat Maghrib berjamaah baru saja kami tunaikan di saung yang letaknya persis di bibir Danau Ranau. Tak menyia-nyiakan waktu, bada Maghrib Syekh Fathurahman mengajak rombongan untuk berzikir bersama menyambut Isya. 

Di tengah suasana syahdu tersebut, Syekh Fathurahman menyampaikan kata-kata mutiaranya, ‘Zikir dan wirid adalah kunci dalam bertarekat. Itulah sebabnya murid yang tidak menjalankan wirid dan zikir hatinya akan diambil alih setan. Setan itu bernama 'Qorin'. Zikir sangat penting bagi murid karena mengantarkan dirinya tersambung pada Allah SWT.

Beliau berpesan kepada semua muridnya di manapun berada —khususnya yang berada di Lampung— agar senantiasa menyambungkan hati kepada Allah SWT. Ketika seorang murid tersambung hatinya Allah SWT sekalipun ia jauh maka ia akan selalu mendapatkan bimbingan-Nya. Sebaliknya walaupun secara fisik dekat dengan Mursyid tapi hatinya tidak tersambung kepada Allah SWT maka yang bersangkutan hakikatnya jauh dari bimbingan Allah SWT.

Tepat sekali yang disampaikan Beliau. Karena aku baru saja menyaksikan senja yang berganti malam. Aku mengibaratkan hal ini seperti siang yang ditelan malam. Begitulah hati manusia akan menjadi gelap bila lalai dari zikir dan wirid. Berjalan sendiri di kegelapan malam, siapa yang sanggup?

Zikir yang dilaksanakan pada malam ini begitu nikmat kurasakan. Letak saung yang strategis, semilir angin yang berhembus serta deburan ombak yang pecah di tepi pantai semakin menambah syahdunya alunan zikir. 

Syekh M. Fathurahman kembali mengingatkan agar senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas karunia nikmat-Nya, karena memiliki pemandu dalam meniti jalan kepada Allah. Sebab dengan adanya pembimbing maka murid akan selalu terarah dalam membersihkan hatinya. Bagi seseorang yang tidak mempunyai pembimbing maka dia tidak akan bisa mengenal kekurangan atau kesalahan-kesalahan dirinya.

Zikir adalah 'tanda syukurnya' wali-wali Allah SWT, sebab mereka senantiasa membersihkan dirinya dari kesalahan dan kekurangan. Allah SWT suka dengan orang yang selalu membersihkan dirinya. Majelis  zikir adalah pestanya wali-wali Allah SWT. Para nabi dan wali-wali Allah memenuhi kerinduannya kepada Allah SWT dengan mendirikan majelis-majelis zikir. Dengan hadirnya Wali Allah akan membawa rahmat dan meredam murka Allah SWT.

“Siapa yang tidak suka dengan majelis zikir, mereka bukan Wali-wali Allah,” tegas Syekh M. Fathurahman.

Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kemampuan oleh Allah SWT agar selalu istiqamah menjalankan petunjuk dan bimbingan Allah sehingga terbuka hakikat agama ini. Sebab hati yang dibukakan oleh Allah SWT dan mendapatkan sinaran cahaya Allah SWT akan merasakan  betapa agung Allah, betapa hebatnya rahasia-rahasia-Nya.

Muhammad Salik (Papua)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/620/zikir-danau-ranau-lampung-barat

Senin, 09 November 2015

Zawiyyah Jonggol Menyelenggarakan Tabligh Akbar

al-idrisiyyah.com, Sukamaju – Sore itu Jum’at 24 Muharam 1437 H (8/11) air hujan rintik turut menyambut kehadiran Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag, Guru Mursyid Tarekat Al-Idrisiyyah di salah satu lokasi zawiyah di Bogor, tepatnya di kampung Menan desa Sukamaju kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Tak selang lama dari kedatangan Tokoh Sufi Indonesia itu, tiba pula murid-muridnya yang datang dari berbagai zawiyah lainnya seperti Bandung, Jakarta, Tangerang, Ciledug, Cariu, Cibubur bahkan dari Tasikmalaya menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua.

Kehadiran sosok Guru di setiap Majelis Ilmu dan Dzikir  ibarat  pusaran magnet bagi para muridnya, tidak terkecuali saat diadakannya Tabligh Akbar di wilayah Jonggol tersebut, para murid yang berkemampuan waktu dan tenaga berduyun-duyun datang menghadirinya. Bahkan lebih dari itu, permintaan siaran tausiyah secara langsung melalui teknologi streaming dari para murid yang jauh atau yang tidak dapat menghadiri saat itu cukup tinggi, sehingga tampak pula tim penyiaran bersiap melakukan broadcast TV dan radio streaming. [baca juga : Teknologi membantu manusia dalam beribadah]

Sebelum Tabligh Akbar dimulai, jamaah yang tiba lebih awal melaksanakan shalat maghrib berjamaah di mushola dekat lokasi acara dan diimami langsung oleh sang Guru, kemudian dilanjutkan dengan dzikir berjamaah secara zahar (suara dikeraskan) , kalimat toyyibah menggema di lokasi rintisan pesantren al Fathiyyah pimpinan Ustadz Sofyan Sauri itu. Dan saat dzikir itulah turun hujan cukup deras meskipun tidak lama selang lama reda kembali, seolah ingin ikut menghidupkan suasana dzikrullah tersebut .

Menurut penuturan warga , turunnya hujan itu sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan untuk kali pertamanya turun di wilayah itu sejak musim kemarau melanda 9 bulan lalu dan jamaah mengucap hamdalah di penghujung dzikir itu.

Ba’da Isya lantunan shalawat dikumandangkan mengawali acara Tabligh , bersamaan dengan itu ratusan jamaah/warga sekitar dan tamu undangan tiba di lokasi acara, tampak hadir para Ulama, perwakilan dari Kepolisian RI, TNI , Muspika dan Kepala Desa Sukamaju yang duduk tepat di depan panggung mimbar. Semua turut berdiri saat diminta bershalawat atas Nabi Muhammad Sallalahu alaihi wasallam. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan-sambutan, lalu kemudian tausiyah yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag.

Dalam tausiyahnya, Mursyid muda berusia 41 tahun itu memaparkan pentingnya selalu bersyukur dan berdzikir kepada Allah, karena meskipun manusia ingin menghitung nikmat-nikmat Allah yang diterimanya maka tak ada satupun yang akan mampu menghitungnya saking banyaknya, dijelaskan pula hikmah-hikmah yang terkandung dari penetapan 1 Muharam 14 abad yang lalu sebagai tahun baru bagi umat islam oleh para sahabat Nabi SAW terdahulu, mengenang perjuangan Islam dimasa lalu dan memberikan gambaran dalam melanjutkan perjuangan Rosulullah SAW dan para sahabat di masa sekarang. [simak rekaman tausiyah selengkapnya klik DISINI].

Di penghujung tausiyahnya, Pimpinan ponpes Al-Idrisiyyah Tasikmalaya itu mengajak para hadirin untuk bermuhasabah diri, beristighfar dan berdzikir, mengucapkan wirid kalimat dzikir Laailaahaillallah bersama-sama yang dipimpin langsung olehnya hingga ditutup dengan do’a.

Usai acara, kontributor al-idrisiyyah.com sempat mewawancarai penyelenggara sekaligus pimpinan pesantren Al Fathiyyah Jonggol,  Ustadz Sufyan Sauri. Ia menyampaikan maksud dan tujuan di selenggarakannya tabligh akbar, yaitu untuk membangun mental masyarakat, memberikan kesadaran diri untuk menyembah Dzat yang layak di sembah yaitu Allah Subhanahu wata’ala, selain itu pula tujuan lainnya adalah untuk menyatukan umat , “ saya berharap dari tabligh ini dapat menyatukan para ulama, bahwa agama islam ini milik bersama dan secara kompak bersama dengan anugerah ilmu yang diberikan Allah mengajak umat dan membimbingnya beribadah kepada Allah”.

Masih menurutnya lagi, kedepan ia berencana membangun divisi dakwah dan lembaga pendidikan dengan menggunakan lahan yang ada untuk mewujudkan harapan dan tujuannya itu. Ia mengundang aparatur pemerintah dan penegak hukum agar pula dapat kompak mendukung harapan semua untuk bersatu dalam lindungan Allah, khususnya di wilayah Sukamaju Jonggol.

Maka dengan hikmah dan dampak positif dari tabligh akbar dan bersatunya para ulama dalam membimbing umat, ketika masyarakat disebutkan nama Jonggol bukan lagi menyahutnya dengan kata 'Wakwaw' tapi berganti menjadi ' Laailaaha illallah'.  Semoga. (rz, Fhoto by als) 

Sumber: http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/571/zawiyyah-jonggol-menyelenggarakan-tabligh-akbar

Kamis, 09 April 2015

Keajaiban hati di Tsim Sha Tsui dan Macau


al idrisiyyah.com, Macau - Perjalanan Dakwah kali ini bertempat di dua lokasi, yakni Masjid Tsim Sha Tsui di Hongkong dan Masjid Macau. Agenda pertama di hari Ahad (5/4) berlangsung pada pagi hari sampai waktu dzuhur (jam 1 waktu Hongkong). Tema yang diusung pada acara yang mempertemukan berbagai majelis taklim di Hongkong tersebut adalah tentang Keajaiban Hati.

Tampak hadir pada kesempatan itu, Bapak Meky dan Bapak Taufik, yang amat antusias dengan berbagai kegiatan pengajian yang diselenggarakan oleh para Buruh Migran Indonesia di sana. Syekh M. Fathurahman dalam ceramahnya menyampaikan pentingnya setiap individu memperhatikan hati sebagai sarana yang menghubungkan seseorang kepada Allah yang menciptakannya. Melalui hati inilah manusia dapat masuk ke dalam ampunan dan syurga, atau sebaliknya meraih siksa dan neraka. Hati menentukan bahagia atau sengsaranya seseorang.

Perjalanan dakwah kali ini berjalan lancar meski diwarnai oleh kondisi semakin ketatnya sikap pihak pemerintah Hongkong terhadap keberadaan beberapa kelompok Islam yang dianggap menyebarkan paham-paham beraliran keras. Pada momen pengajian kedua di Masjid Macau, jama’ah pekerja di Macau begitu antusias menghadirinya sehingga masjid yang terbatas tempatnya tersebut tidak mampu menampung ratusan jam’ah yang hadir. Kehadiran rombongan Mursyid Al Idrisiyyah di sana memberikan motivasi, penyegaran spiritual serta menambah wawasan ilmu dan pemahaman kepada para pejuang devisa yang haus akan bimbingan yang belum mereka peroleh selama ini. Rencananya rombongan Mursyid Al-Idrisiyyah masih ada 2 jadwal lagi di akhir tahun ini. (lq)

Tweet

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/520/keajaiban-hati-di-tsim-sha-tsui-dan-macau

Selasa, 27 Mei 2014

Tabligh Rajab di Masjid Al Fattah Serpong

Acara dilaksanakan pada malam Ahad, 24 Mei 2014, dimulai sesudah sholat Isya berjama'ah. Pada acara kali ini pengajian malam Ahad yang biasanya dilaksanakan di Masjid Jami’e Al Fattah, Jl. Batu Tulis Jakarta Pusat dipindahkan lokasinya ke daerah Serpong.

Walhasil acara yang bertepatan dengan pengajian bulanan bersama warga sekitar masjid menjadi penuh dengan jama’ah yang hadir. Bertepatan dengan menyongsong moment Isra Mi’raj, Syekh M. Fathurahman mengulas sedikit tentang hikmah di balik peristiwa agung tersebut.

[Lq]

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/466/tabligh-rajab-di-masjid-al-fattah-serpong

Kamis, 07 Maret 2013

Safari Dakwah Lombok

Ketika Syekh tiba di bandara Lombok, puluhan orang menyambut dengan iringan sholawat. Mereka adalah jama’ah Tarekat Qadiriyyah Naqsabandiyyah dari Ponpes Al-Hafizhiyyah, Masjuring, Bonder, Praya Barat (Lombok Barat) yang lokasinya dekat dengan Bandara Internasional yang baru.

Rombongan langsung menuju penginapan di Mataram (ibukota NTB) di Lombok Barat. Lokasi penginapan dekat dengan kediaman TGH. Abu Bakar, tuan rumah acara di di Karang Kelok (malam Sabtu). Beliau adalah cucu pembawa Tarekat Qadiriyyah Naqsabandiyyah di Lombok, TGH Muhammad Siddiq (murid Syekh Abdul Karim Banten). Setelah mengisi acara pengajian IMTAQ (Iman dan Taqwa) di lingkungan Walikota pada Jum’at pagi, pada malam Sabtu Syekh mengisi acara di masjid kediaman Tuan Guru Abu Bakar.

Meski pada pagi harinya Walikota tidak bisa hadir, tapi pada malam Sabtu di Karang Kelok Walikota dapat hadir memberikan sambutannya. Kehadirannya disertai para Tuan Guru lain termasuk mereka yang pernah dikenal beberapa tahun yang lalu bersua kembali dalam acara itu. Selesai Syekh memberikan ceramah, Walikota dan para Tuan Guru termasuk ketua MUI Lombok menghampiri Syekh dan memeluknya dengan erat, di luar biasanya. Walikota Mataram dan jajarannya termasuk MUI menyampaikan dukungannya atas apa yang diperjuangkan Al-Idrisiyyah di Lombok, meski diwarnai pernak-pernik hambatan yang justru membuat Al-Idrisiyyah semakin dikenal.

Setelah mendengar ceramah Syekh, Tuan Guru Mahalli Fikri yang pernah mengundang rombongan Al-Idrisiyyah ke tempatnya mengajak Syekh untuk berkunjung kembali ke Pesanternnya, Al-Haramain. Dan di pagi hari Syekh didaulat untuk memberikan taushiyah untuk memotivasi murid dan santri di Pesantren Al-Haromain. TGH Mahalli Fikri, ketua KBIH Lombok dan juga sering mewakili Gubernur NTB untuk menemani tamu penting di NTB ini mensupport Idrisiyyah agar terus mengintensifkan dakwah di Lombok, dan membuktikan dengan aksi perbuatan yang nyata.

Ia bersedia menjadi fasilitator dakwah Idrisiyyah di Lombok, dia mengistilahkan sebagai barisan Anshor yang siap mendukung perjuangan dakwah Idrisiyyah di sana. Utusan dari Ponpes Darussalam, pimpinan TGH Ridhwanullah juga datang untuk mengundang Syekh untuk singgah ke tempat mereka. Namun karena jadwal kunjungan Syekh beserta rombongan terbatas, Syekh akan menjadwalkannya pada event berikutnya. Rencananya, dengan banyaknya permintaan kunjungan Syekh, kunjungan ke Lombok, akan dijadwalkan 2 kali dalam setahun.

Dalam ceramahnya Syekh M. Fathurahman mengungkapkan betapa banyak manusia menginginkan kebahagiaan, tapi yang dicarinya adalah kebahagiaan yang sifatnya terbatas, yakni sekedar pemenuhan kebutuhan fisik. Kebahagiaan yang haqiqi adalah kebahagiaan ruhani yang nilainya lebih luas dari sekedar kebutuhan fisik. Maka untuk mencapai kebahagiaan yang haqiqi tersebut, ada beberapa hal yang harus ditempuh.

(Pertama) Menggunakan system Allah. Dalam berbagai proses kehidupan senantiasa memperhatikan rambu-rambu dien Allah SWT, senantiasa menggunakan ukuran syari’at Allah, bukan menggunakan ukuran duniawi semata.

Tidak menggunakan ukuran nafsu dan kebutuhan pribadinya sebagai landasan berkatifitas.

(Kedua) Senantiasa bersama-sama dengan orang yang mengenal dan mengamalkan sistem Allah SWT tersebut. Allah SWT senantiasa mengirimkan hamba terbaik-Nya untuk membawa dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran bagi umat manusia, yakni para nabi dan para Rasul. Dengan berakhirnya kepemimpinan Rasulullah SAW yang merupakan khotamil anbiya, maka kita mencari nilai-nilai kebenaran tersebut pada para pewarisnya yakni Al-Ulama, dan berusaha untuk senantiasa mengambil hikmah-hikmah dari mereka agar senantiasa terbimbing dalam setiap tindakan dan aktifitas kehidupan.

(Ketiga) Memanfaatkan Kesempatan yang diberikan Allah. Allah SWT memberikan kesempatan yang luar biasa besarnya, berupa umur dan segenap anugerah lahir dan bathin pada setiap individu. Maka, kita pergunakan semua kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, dengan penuh dedikasi akan pengabdian terhadap Allah SWT. Kesempatan ini tidak akan pernah dating dua kali, kesempatan emas ini harus senantiasa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita lalai dan santai dengan kesempatan yang diberikan. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu diambil lagi Oleh Allah SWT. Mungkin besok, mungkin juga hari ini, atau bahkan sesaat lagi.

(Keempat) Berusaha dengan Sungguh-sungguh. Semua kebahagiaan baik dunia maupun akhirat, tidak bisa diraih dengan berpangku tangan dan sikap yang santai. Semua itu harus diraih dengan sikap sungguh-sungguh dan kerja keras. Jatuh bangun semangat dalam meraihnya pasti dijumpai, yang perlu dilakukan adalah menjaga semangat kerja keras dan kesungguhan itu agar selalu tumbuh dan terpelihara. Laron di Kamar Hotel Ada suatu kejadian menarik ketika Syekh ingin mendatangi hotel yang sudah dipesan beberapa minggu sebelumnya. Ketika rombongan Syekh datang, petugas hotel bermaksud hendak membersihkan dan mempersiapkannya terlebih dahulu.

Keanehan terjadi, saat kamar dibuka, seluruh ruangan terutama kasur dan bawahnya dipenuhi oleh laron. Ruangan penuh dengan hewan kecil yang biasanya muncul di malam hari mendekati cahaya. Padahal kamar tersebut lampunya mati sejak semalaman, dan kamar lainnya di hotel tersebut kondisinya tidak seperti itu. Hewan tersebut hanya menempati kamar yang sudah dipesan untuk Syekh. Ketika menyaksikan hal tersebut, pegawai hotel yang menyaksikan dan mendengarkan cerita ini menjadi merinding bulu romanya.

Akhirnya petugas hotel menawarkan Syekh untuk pindah ke kamar lainnya. Namun Syekh menolak tawaran tersebut, karena kamar tersebut lah yang sudah ditakdirkan untuk ditempati. Ketika ditanyakan apakah maksud dan hikmah di balik peristiwa tersebut, Syekh menyatakan bahwa hal itu menggambarkan karakter umat Islam di Lombok yang akan Beliau kunjungi nanti. Mereka bergerombol (berkumpul) mencari sumber cahaya yang ia sukai, dan rela hidup mati bersama-sama pula dengan orang yang ia cintai itu. 6 Maret 2013

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/381/safari-dakwah-lombok

Jumat, 25 Januari 2013

Maulid di Cariu

Suasana hujan, jalan becek mewarnai acara Maulid di Cariu. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat kampung Nyengcle desa Selawangi untuk menyambut kedatangan rombongan Mursyid Al-Idrisiyyah. Mereka sudah hadir sejak Maghrib menunggu-nunggu sosok penceramah malam itu.

Butuh waktu 4-5 jam perjalanan mencapai Ponpes Miftahul Khoeriyyah sebagai tempat acara. Tampak buah-buahan berjajar mewarnai pemandangan sepanjang jalan sejak memasuki wilayah Jonggol sebelum memasuki daerah Cariu.

Ponpes ini merupakan salah satu dari kediaman para murid Idrisiyyah di Cariu, yang kebanyakan adalah para Asatidz. Jarak antara satu murid dengan lainnya begitu jauh, 10 km. Jama’ah Idrisiyyah Cariu yang mulai bergabung beberapa bulan lalu ini banyak yang telah memiliki anak didik di pesantren / majelisnya masing-masing. Seluruh rangkaian acara malam itu pun melibatkan para Ustadz dan murid-muridnya.

Anak didik tersebut ikut mengisi pengantar acara berupa lantunan Sholawat dengan iringan Rebana. Acara Maulid malam itu pun dimeriahkan dengan penampilan duet Qori yang membawakan Shalawat dan Tilawah Quran. Pimpinan Ponpes Miftahul Khoeriyyah yang malam hari itu genap berusia 41 tahun menyatakan bahwa kehadiran Syekh begitu diharapkan untuk memberikan nasehat dan penjelasan mengenai ajaran Al-Idrisiyyah.

Karena menurutnya Tarekat Tasawuf banyak yang dipahami dengan tidak utuh oleh masyarakat setempat. Padahal ajaran Idrisiyyah yang begitu fleksibel dalam penerapan dan banyak kelebihannya itu amat perlu diketahui oleh umat Islam sehingga pandangan mengenai Tarekat yang sebenarnya dapat mereka peroleh. Ajengan Mahfudz Ramli dengan panjang lebar menyampaikan sambutannya dengan bahasa / dialek setempat sebelum penceramah naik panggung. Karena ia seorang mubaligh, maka sambutannya ketika itu cukup lugas. Beberapa tokoh Cariu, Ulama dan wartawan koleganya juga hadir. Syekh M. Fathurahman mengajak masyarakat setempat untuk menyiapkan generasi penerus dari anak-anaknya untuk dididik di Pesantren.

Karena tantangan kehidupan di era kemajuan teknologi sekarang ini begitu berat. Semakin sulit menciptakan kader-kader taqwa yang memperjuangkan kebenaran. Ketidakmampuan orang tua mendidik anaknya hendaknya diatasi dengan menyerahkannya kepada para Ustadz yang mau mencurahkan tenaganya membentuk kepribadian anaknya menjadi kader yang dapat diandalkan agama dan keluarga di kemudian hari. Manusia dalam alam azali telah diambil sumpahnya di hadapan Allah, namun di kemudian hari banyak yang melupakan peristiwa komitmen itu. Mereka lupa kepada syari’at (ketetapan) Allah, sehingga menjalankan kehidupan dengan aturannya sendiri. Padahal manusia diperintahkan utnuk mengikuti apa yang diturunkan Allah (ittabi’uu maa anzalallah). Jika manusia terus mengikuti aturannya sendiri dan tidak mau diatur dengan aturan Allah maka mereka akan hancur.

Umat Islam banyak yang tidak mengenal agamanya sebagai agama yang mudah (Ad-Diinu yusrun), dan juga mengajarkan kesuksesan dalam hidup. Allah memberikan bukti tersebut dalam kehidupan atas apa yang telah diperjuangkan, agar keinginan untuk menggapai kesuksesan akhirat menjadi lebih besar. Menurut Ust. Mahfudz Ramli ke depan keberadaan masjid di lingkungan pesantren akan diubah menjadi ruang pendidikan dan perpustakaan.

Sedangkan masjid akan dibangun di tempat yang lebih strategis di sisi jalan. Alhamdulillah, sudah ada yang menghibahkan tanah seluas 1.000 m persegi untuk rencana tersebut. Dengan adanya beberapa rencana dakwah yang terukur dan sistematis, kehadiran Al-Idrisiyyah diharapkan menjadi energi baru bagi masyarakat Cariu untuk menjalankan Islam dengan lebih baik. Sebelumnya kemitraan Al-Idrisiyyah dengan masyarakat Cariu sudah berjalan melalui program ekonomi. Beberapa segmen usaha sedang dan akan diupayakan, terutama di bidang perkebunan dan perdagangan. Adanya BMT Al-Idrisiyyah sebagai upaya meningkatkan kualitas dan pemberdayaan umat akan mempercepat terwujudnya keseimbangan hidup dalam menjalankan Dienul Islam, dalam hal ini bagi masyarakat Cariu.

Lq, 24 Jan ’13.

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/375/maulid-di-cariu

Rabu, 19 Desember 2012

Safari Dakwah Magelang - Yogya - Magetan

Selama 3 hari, Syekh M. Fathurahman kembali mengunjungi jama’ah di wilayah Timur Pulau Jawa. Kali ini Beliau bersama dengan beberapa para Ustadz mengunjungi Magelang, Yogyakarta dan Magetan. Setelah Shubuh, rombongan berangkat dari Tasikmalaya menuju Magelang. Lokasi dakwah pertama adalah Hotel Pondok Tingal, sebuah penginapan yang letaknya dekat dengan Candi Borobudur. Di hotel etnik Jawa ini terdapat aula yang cukup besar dan biasa dipergunakan untuk berbagai acara atau kegiatan. Tempat ini sudah tidak asing lagi bagi Majelis Syifaul Qolbu, karena pemiliknya juga aktif menghadiri kegiatan pengajian yang biasa dipimpin oleh Ustadz Budi. Pengajian yang selalu dihadiri oleh sekitar ratusan jama’ah itu lokasinya berpindah-pindah di wilayah Magelang. Dengan suasana asri, dingin dan hening, pengajian pada malam hari itu selalu berjalan lancer. Seperti biasa sebelum acara, Ustadz Budi datang menghampiri kamar menginap Syekh M. Fathurahman untuk berbincang-bincang secara pribadi. Setelah jam menunjukkan jam 8 malam, kami semua bergegas menuju aula pendopo untuk menghadiri acara pengajian. Sesampai di sana, ratusan jama’ah baik pria maupun wanita telah hadir. Puluhan kendaraan memenuhi halaman hotel. Pengajian diawali dengan majelis dzikir yang dipandu oleh Pak H. Dudu, salah seorang pengurus Majelis Syifaul Qolbu. Seluruh hadirin mengikuti dengan khidmat. Barulah setelah itu Ust. Budi menyampaikan sambutannya sebelum Syekh M. Fathurahman berceramah. Dalam sambutannya Ust. Budi menegaskan bahwa Syekh Fathurahman merupakan Guru pembimbing yang diyakininya sebagai sosok pilihan Allah, dan secara otomatis merupakan pemandu para murid-muridnya. Pernyataan lugas Ust. Budi ini membuktikan ketulusan jiwanya dalam menerima kebenaran dan menghilangkan keegoan sebagai seorang Guru di hadapan para muridnya. Hal ini seperti apa yang dilakukan oleh Syekh Al-Mujaidiri kepada muridnya, Syekh Ahmad bin Idris, bahwa ia memiliki Guru yang bernama Syekh Abdul Wahab At-Taziyyi. Dalam ceramahnya, Syekh M. Fathurahman menyampaikan topik pembahasan persiapan kembali kepada Allah.[1] Dzikir dan do’a muhasabah menutup acara pada malam hari itu. Pengajian di Magelang ini tidak disia-siakan oleh beberapa kader Idrisiyyah yang menjadi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Meskipun jurusan studinya beragam, mereka memiliki jalinan komunikasi yang baik sebagai alumni Pesantren FADRIS. Kepada mereka Syekh berpesan untuk bersungguh-sungguh menimba ilmu, serta tidak melupakan ibadah dan banyak dzikir kepada Allah. Keesokan harinya, sebelum tiba jadwal keberangkatan ke Yogya kami mengisi waktu dengan berjalan-jalan mengunjungi Candi Borobudur. Pada hari Sabtu tersebut, situs ini sedang ramai dikunjungi orang terutama para siswa yang mengadakan study penelitian. Ada 3 atau 4 rombongan siswa menanyakan permasalahan yang sama kepada kami tentang hukumnya mengunjungi candi, sebagai tempat ibadah umat Budha/Hindu. Karena kebetulan yang ikut adalah para ajengan, pertanyaan tersebut dijawab silih berganti. Siang hari kami bertolak ke Yogya. Acara berlokasi di Musholla Al-Fattah (ba’da Maghrib) dan Masjid Nurul Ilmi (ba’da Isya). Hujan deras mengiringi perjalanan kami hingga tiba di Pasar Playen. Pemandu perjalanan yang biasanya dikenal dengan pakaian khas gamis putihnya, kali ini sulit dikenal karena ia menggunakan jaket hujan dan pemandangan buram karena lebatnya hujan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami berhasil menemuinya. Dari pasar Playen kami dipandu menuju lokasi, dan sepanjang perjalanan itu hujan mereda sedikit demi sedikit hingga tiba di tempat tujuan. Sebelumnya di sore hari kami menyempatkan untuk menengok peternakan sapi tradisional di sekitar Playen, mencari informasi pembibitan sapi. Dan menurut sang blantik, yakni makelar sapi yang kami kunjungi tersebut, bulan-bulan ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan transaksi pembelian sapi karena harga sedang tinggi. Kami sempat dijamu dengan jamuan teh hangat di sore hari, sambil berbincang menunggu matahari menyusup di balik persembunyiannya di belahan barat. Acara di Musholla Al-Fattah diikuti oleh sebagian besar murid Al-Idrisiyyah wilayah Playen. Dengan jama’ah yang terus berkembang dari waktu ke waktu, tempat ibadah yang permanen memang sudah sepantasnya eksis di lingkungan jama’ah di sana. Alhamdulillah, Musholla Al-Fattah berdiri cukup kokoh dan semakin banyak kemajuan dari sisi fisiknya. Hal ini karena kegigihan jama’ah dan warga sekitar untuk membangunnya secara swadaya meski kondisi perekonomian mereka sederhana saja. Di musholla ini Syekh memberikan pengajaran dzikir sederhana kepada jama’ah. Terlihat, satu demi satu warga berdatangan, dan ikut bergaung mengikuti pengajian di musholla. Pengajian di Masjid Nurul Ilmi, daerah Gading, berlangsung agak malam (kebiasaan di sana). Bahkan setelah kami sampai di lokasi acara, pengajian masih menunggu jama’ah yang datang jauh. Para tokoh masyarakat juga hadir pada kesempatan acara tersebut. Suasana acara yang dihadiri jama’ah berbagai tingkatan sosial, ekonomi dan intelektual tersebut berjalan dengan meriah. Sesekali Syekh memberikan guyonan problematika kehidupan yang penuh pembelajaran kepada yang hadir. Selaku tuan rumah dan ketua DKM, Ust. Hartono beserta keluarganya cukup ramah menyambut kedatangan kami. Mereka menawarkan kepada kami untuk bermalam di sana, karena selama ini belum pernah terjadi. Kami begitu berkesan dengan sikap keramahan keluarganya ini. Sama seperti dalam pengajian sebelumnya, kami memberikan beberapa literatur bacaan dan informasi termasuk alamat link streaming pengajian. Kunjungan terakhir adalah ke villa Cirro Stratus (TNI AU) di Sarangan, Magetan. Di penginapan yang dekat dengan daerah wisata Telaga Sarangan tersebut, kami menemui seorang perwira muda AU, yang simpati terhadap perjuangan dakwah Syekh M. Fathurahman. Dalam kunjungan singkat tersebut, menghasilkan rencana kunjungan Mursyid Al-Idrisiyyah ke LANUD Madiun pada agenda kunjungan Safari Dakwah Jateng – Jatim selanjutnya. Insya Allah. Lq, 19 Des ’12. Rekaman Pengajian: Pengajian di Majelis Syifaul Qolbu (Magelang), 14 Des '12: http://www.mediafire.com/?dh2xh2f19lfs8v2">http://www.mediafire.com/?dh2xh2f19lfs8v2 Pengajian di Masj. Nurul Ilmi (Yogyakarta), 15 Des '12: http://www.mediafire.com/?wlvd3gfeek4dbxg">http://www.mediafire.com/?wlvd3gfeek4dbxg [1] Materi ini pernah dimuat dalam artikel sebelumnya. Sumber :http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/368/safari-dakwah-magelang---yogya---magetan

Rabu, 06 April 2011

Dakwah Lombok (1-4 April 2011) Bag. Kedua

Bagian Kedua dari 2 Tulisan Sambutan Hangat Pulau Lombok dikenal sebagai Pulau seribu masjid. Keberadaan masjid yang indah-indah di berbagai pelosok menunjukkan masyarakatnya amat religius. Adanya masjid indah dan megah seolah menunjukkan status ekonomi atau kesejahteraan lingkungan tersebut. Rata-rata masjid memiliki kubah besar diapit oleh 2 buah menara. Kunjungan kami yang pertama adalah di Pondok Pesantren Al-Hafizhiyyah. Di sini, kami mendapatkan sambutan yang di luar dugaan kami. Pada saat keluar mobil, Syekh M. Fathurahman langsung didekap erat oleh putra Kiyai Abdul Hafizh, pose ini tidak tertangkap penuh oleh kamera, karena kameramen berada di belakang mobil Syekh. Setelah itu Syekh dipegang erat melangkah menuju masjid. Di sepanjang jalan itu, kami yang ingin mendokumentasikan gambar tidak bisa berbuat banyak. Massa merangsek ke hadapan Syekh untuk mencium tangan. Kami di belakang yang hendak mengambil gambar, tidak luput dari jabatan dan dekapan tangan mereka yang seolah tidak mau melepaskan kami begitu saja. Sepanjang jalan hingga di dalam masjid, jama’ah di kanan kiri minta bersalaman satu per satu. Di tengah acara MC memaparkan kerinduan dan kegembiraan bertemu dengan Syekh yang berasal dari tanah Jawa Barat. Karena mereka merasakan ada getaran hubungan yang begitu kuat antara kami dengan mereka. Sebab Guru-guru Tarekat mereka terdahulu berasal dari tanah Jawa. Tuan Guru Abdul Hafizh yang berusia 95 th sendiri adalah satu-satunya Guru yang masih hidup di Lombok Tengah, yang menjadi saksi hubungan silsilah Keguruan Tarekat ke tanah Jawa. Di masjid seluas Masjid AlFattah Batu Tulis itu, penuh dengan orang yang hadir, pria di depan dan wanita di belakang. Ceramah Syekh M. Fathurahman yang interaktif menambah suasana lebih akrab. Selesai ceramah, kami dijamu dengan gaya Lombok. Saat itu kami memberikan cinderamata berupa dvd ceramah dengan 11 judul. Mereka senang menerimanya. Sepulangnya menuju mobil, masih ada jama’ah yang menghadang jalan kami meminta untuk mencium tangan Syekh. Di masjid Baital Falah, Syekh M. Fathurahman sudah berceramah dua kali. Beberapa tahun lalu Beliau pernah memberikan khutbah Jum’at. Dan gaya ceramah ini amat disenangi pengurus masjid di sana, dan ia masih mengingatnya. Oleh karenanya, waktu seluas-luasnya disediakan untuk Beliau untuk berceramah. Bahkan sampai jam 9 pun (dari maghrib) dipersilahkan. Di tempat ini walau diumumkan mendadak dan tidak disediakan konsumsi acara, jama’ah tetap antusias menghadiri acara ceramah agama di masjid. Bahkan lebih banyak dari jama’ah pengajian Ahad di Batu Tulis. Selama 1 jam 1 menit Beliau ceramah bertemakan Hak-hak Allah yang mesti dipenuhi oleh setiap hamba. Di Kampung Muhajirin, Lombok Barat, Syekh M. Fathurahman disambut antusias oleh masyarakat setempat. Masjid dipenuhi hadirin dan hadirat berbagai usia, dari anak-anak hingga kakek nenek. Syekh M. Fathurahman berceramah lebih interaktif dari sebelumnya. Ceramah sering diselingi oleh dialog-dialog yang membuat jama’ah terasa betah mendengarnya. Bahkan beberapa orang tua yang semula duduk tertunduk serius, ‘terpaksa’ mengangkat kepalanya karena terbawa kehangatan interaksi penceramah dan pendengar malam itu. Materi ceramah saat itu adalah ‘Kewajiban setiap Hamba pada dirinya sendiri’. Ceramah diselingi dengan semangat membangun persatuan umat dan menghindari perpecahan antar pribadi dan golongan. Ceramah Syekh yang berkesan ini membuat tokoh Ulama / masyarakat merasa dekat dengan Beliau. Rasa sungkan dengan penampilan kami sejak kedatangan berubah menjadi keakraban. Kami mengadakan acara berfoto bersama. Tidak ada satu pun jama’ah yang melewatkan kesempatan emas ini. Ketika kami berada di mobil usai acara, ketua masjid berkata, ‘Tolong, kalau ada jadwal ke lombok nanti mampir ke tempat kami! Kami akan menerimanya kapan pun! Tolong jangan lupakan kami di sini!’ Insya Allah. Beberapa kisah Spiritual Pada hari Ahad pagi, sms dari putra Kiyai Abdul Hafizh mengatakan bahwa ayahnya semalaman tidak bisa tidur. Putranya tidak mengerti untuk mengungkapkan perasaan ayahnya yang dilanda kerinduan yang sangat kepada Syekh M. Fathurahman, seolah tidak ingin dipisahkan dengan Syekh M. Fathurahman. Ia juga mengatakan bahwa pertemuan dengan Syekh kemarin siang begitu memuaskan dan mengesankan hatinya. Belum selesai sms ini diceritakan, Syekh M. Fathurahman juga mengungkapkan bahwa semalaman Beliau tidak bisa tidur. Karena terdengar suara gaduh. Itulah para leluhur dan Ulama-ulama Lombok terdahulu mendatangi Beliau malam itu. Sungguh mengagumkan jalinan hati apabila saling bertemu dan menyapa, lalu timbullah kecintaan yang tak mau dipisahkan ini. Setelah kami ceritakan, Syekh memberikan isyarat agar Kiyai Abdul Hafizh datang ke tempat acara Taushiyah Beliau di kampung Muhajirin pada malam Senin. Tapi setelah acara ada berita dari putranya bahwa Kiyai tidak bisa melakukan perjalanan malam hari karena uzur usia. Kisah kedua, setelah ceramah di masjid Baital Falah, datang 2 orang ibu yang rupanya tetangga Pak Ardiwan sebelah rumahnya. Saat kami berbincang dan mereka duduk di hadapn kami, Ibu Hanna yang bersuamikan dosen itu bertanya, ‘Kayaknya saya pernah lihat di Televisi deh!’ ‘Oh, iya waktu itu bersama Ust. Arifin Ilham di MNC’ jawab Syekh. Ibu Hanna dahulu pernah dibai’at oleh Syekh Muhyiddin M. Daud Dahlan di rumah P Ardiwan. Dibai’atnya ibu Hanna ini didahului oleh beberapa pe ristiwa ruhani yang membuatnya tertarik menjadi murid. Bahkan beberapa hari sebelum Syekh M. Daud Dahlan wafat, ia dimimpikan Beliau berada di sebuah masjid yang belum pernah saya melihatnya (mungkin di Tasik, katanya). Beliau berada di tengah-tengah muridnya dan diangkat ke atas ramai-ramai. Tapi saya, kata Bu Hanna, hanya mengintip dari luar, gak berani masuk ke dalam. Ibu Hanna ini sebelum Syekh M. Fathurahman mengisi ceramah di Baital Falah, menghubungi beberapa kawan-kawannya untuk hadir mendengarkan ceramah Syekh. ‘Jarang-jarang lho kita kedatangan seseorang yang istimewa dari tempat yang jauh!’ katanya. Ibu Hanna ingin sekali Syekh M. Fathurahman berdakwah di kampungnya, yakni Bima (NTB). Permintaan ini kami catat sebagai agenda dakwah ke depan. Satu lagi yang menjadi pendamping P. Ardiwan di Lombok adalah Johan, adiknya. Saat kami tiba di Selaparang, terlihat keduanya menyambut kami dengan sigap. Adiknya ini dulu pernah tertarik menjadi murid sebuah Tarekat. Tapi, kakaknya mengingatkan agar adiknya mencari Guru yang jelas keguruannya. Johan menuturkan, semenjak saya menjadi murid Idrisiyyah, ia tidak diganggu lagi oleh makhluk halus yang kadang-kadang menindih atau mencekiknya di kala ia tidur. Sejak itu hingga kini ia merasa nyaman dan mantap menjadi bagian jama’ah Al-Idrisiyyah. P. Ardiwan bercerita bahwa ia pernah didatangi oleh seorang pemuka Hindu (yang rajin bertapa), ia berkata bahwa rumahnya ini memiliki kelebihan cahaya (aura) yang bagus. Sepertinya ada sesuatu di dalam rumah, tapi ia tidak tahu mengapa kediaman Pak Ardiwan berubah menjadi bagus pesona keghaibannya. Setelah diceritakan bahwa rumahnya beberapa kali pernah didiami oleh Gurunya dari Jawa, barulah ‘Kiyai’ Hindu ini memahaminya. Ia menawarkan jika rumahnya mau dijual, silahkan menghubunginya, berapapun harganya. Kayaknya P. Ardiwan setelah mengetahui kelebihannya, tidak bakal tertarik dengan tawaran tersebut. Tentu, pengabdiannya kepada sosok Ulama yang dimuliakan Allah melebihi apa yang terungkap di dunia ini. Kepada murid-murid yang jauh di mata tapi dekat di hati ini Syekh M. Fathurahman mengingatkan agar senantiasa menjaga kewajiban ibadah yang telah disyari’atkan. Jika hal itu dipenuhi, secara otomatis bimbingan Allah secara ruhaniah (karena faktor jarak) akan datang kepadanya. Allah itu lebih dekat daripada urat leher. Artinya bukan Zat-Nya, tapi Rahmat, Nur, Ilmu dan bimbingan-Nya yang dekat. Seorang murid bukanlah beribadah kepada Gurunya, karena seorang Guru hanyalah sebagai agency, perantara saja. Tapi ia beribadah kepada Allah Yang Haqq. Pesan-pesan Dakwah Dakwah Syekh M. Fathurahman ke berbagai wilayah dan komunitas tidak mengusung ‘nama baru’ atas nama yang telah ada. Nama ‘Al-Idrisiyyah’ sekedar identitas semata. Masyarakat atau komunitas yang didatangi tidak untuk didakwah agar mau menjadi jama’ah Idrisiyyah. Posisi Idrisiyyah adalah menjadi penengah, dakwahnya menyampaikan nilai-nilai keimanan dan keislaman. Dan tidak ada paksaan untuk mengikutinya. Ibadah kepada Allah di antara umat yang sudah bergolong-golongan saat ini adalah berpedoman kepada fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan). Agama bukan untuk membelenggu umat. Agama berfungsi untuk mengatur agar terjadi keharmonisan di tengah kemajemukannya. Jika ibadah saling menghancurkan, saling mencari kekurangan dan kesalahan, berarti ibadahnya tidak ikhlash. Seharusnya ibadah itu bermitra, bukan saling menjegal. Dakwah mesti mengedepankan kedamaian. Dakwah sekarang adalah dengan cara yang lebih elegan (santai) dan damai. Sedangkan dahulu sering diwarnai dengan ketegangan. Masing-masing diri kita telah memiliki komunitas atau kelompok, maka yang dikedepankan adalah kemitraan karena wadahnya sudah ada. Jika dakwah kita berorientasi kemitraan maka akan mudahlah jalan dakwahnya. Jika ada kelompok yang ada kekurangannya semestinya dibantu dicarikan solusinya bukan malah dipojokkan. Tujuan dakwah bukanlah untuk membesarkan kelompoknya masing-masing, tapi karena Allah dan Rasul-Nya. Dakwah bukanlah untuk memamerkan ilmu dan murid. Saling memberi dan menasehati adalah motivasi dakwah. Arahkan tujuan dakwah kepada Allah, bukan kepada manusia. Ibadah sekarang adalah ibadah nikmat (syukur). Kita hanya mensyukuri nikmat yang sudah ada di hadapan kita, dan tidak mampu menolaknya. Coba kita perhatikan, berapa orang yang terlibat sehingga makanan yang akan kita makan ini tersaji di hadapan kita. Bayangkan ada berapa orang yang memelihara ayamnya, yang memotongnya, yang mencincangnya, yang mengirimnya ke pasar, yang menjualnya, yang memasaknya, yang menyajikannya. Belum bumbu-bumbunya, nasinya, dsb. Allah telah merancang perjalanan rizki yang akan menghadang di manapun kita berada. Sebelum datang ke suatu tempat rizki kita telah dipersiapkan. Dan rizki yang Allah berikan begitu luas, sehingga kita tidak mampu menikmati semuanya. Ternyata bukan rizki yang terbatas, tapi kemampuan kita-lah yang membatasinya. Kita tidak mampu merasakan semuanya. Makanan yang enak pun jika melampaui batas ukuran bukan bertambah enak, tapi ‘eneg’. Bersyukur atas nikmat, adalah penyebab ditambahkannya nikmat. Dan senikmat-nikmatnya karunia adalah diberikan keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Materi ceramah selama di Lombok dapat disimak di Gallery Audio (www.al-idrisiyyah.com) Lq, 6 Maret 2011 Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/202/dakwah-lombok-1-4-april-2011-bag-kedua

Dakwah Lombok (1-4 April 2011) Bag. Pertama

Perjalanan dakwah ke Lombok kali ini adalah yang ketiga. Sebelumnya Syekh Akbar Muhyiddin M. Daud Dahlan pernah berkunjung ke Lombok. Pertama, melalui perjalanan darat yang ditempuh selama 2 minggu (pp) dan kedua melalui pesawat. Murid Al-Idrisiyyah pertama yang berasal dari Lombok adalah Pak Ardiwan, yang dahulu pernah dinas militer di Jakarta. Melalui dedikasinya perjalanan dakwah kali ini berjalan dengan lancar, acara demi acara. Kendala Penerbangan Kegembiraan awal perjalanan yang kami terima dengan turunnya harga tiket dari Rp. 1,6 jt pp menjadi Rp. 1,1 jt tidak berlanjut dengan service penerbangan. Sempat tersendat dengan jadwal keberangkatan yang mundur selama 1 jam. Di ruang tunggu, 2 rombongan keberangkatan menunggu dengan harap-harap cemas pesawat yang akan menuju Balikpapan dan Lombok. Ketika diumumkan bahwa rombongan Lombok akan berangkat (setelah tertunda 1 jam), seorang penumpang tujuan Balikpapan berbicara keras memprotes kebijakan tersebut karena seharusnya jadwal ke Balikpapan lebih dahulu daripada Lombok. Ruang komunikasi dikuasai penumpang yang sudah tidak sabar karena menuntut kompensasi akibat keterlambatan tsb. Bahkan seorang pemuda berbadan kekar bersuara lantang meminta pertanggungjawaban pimpinan mereka. Para pegawai beserta pihak keamanan berhamburan keluar tidak mampu menenangkan suasana dan menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tersebut. Saat orang yang sedang emosi dan dikerumuni beberapa petugas keamanan itu, kami melintasinya dan masuk ke dalam pesawat. Pesawat take off jam 8 malam. Di waktu perjalanan pulang, semestinya kami sudah take off jam 6 pg, diundur menjadi jam 12.30 siang. Akibat keterlambatan ini sempat terjadi insiden serupa di loket bandara. Seorang oknum militer dengan sangat emosional mengancam mau menghancurkan loket, dan menembak petugas tiket. Di sela-sela insiden itu muncul artis Hengky Tarnando dengan kepala plontos, kami sempat berfoto bersama. Hengky menyatakan berkeinginan bertemu di Jakarta, mau menghadiri pengajian Syekh, Insya Allah. Di bandara Sukarno Hatta, baru kali ini kami mengalami ketinggalan tas (barang) bawaan. Sebanyak 6 paket dari 14 paket barang tidak kami terima. Akhirnya keberangkatan pulang ke rumah tertunda beberapa jam. Saat itu pula seorang di antara complainer menekan petugas untuk menghadirkan pimpinan operasional (manajer) untuk mempertanggungjawabkan kinerja yang mengecewakan tersebut. Dengan mengaku anggota Dewan, orang itu mengemukakan kekecewaannya dengan nada emosional. Akhirnya, barang-barang yang tertinggal tersebut disepakati untuk dikirim melalui titipan Kilat ke alamat masing-masing. Syekh sebelum naik kendaraan memerintahkan untuk mengusut masalah ini dengan tuntas. Wisata Kuliner Waktu sudah larut malam saat kami tiba di rumah P. Ardiwan, sekitar jam 11.30 WITA. Kami tidak diperkenankan langsung istirahat sebelum menikmati hidangan spesial malam itu. Masing-masing telah disiapkan seekor Ayam Bakar Taliwang, makanan khas Lombok. Ayam Taliwang ukurannya lebih kecil dari ayam yang ada di Jawa. Tapi walau kecil, rasanya sama seperti ayam kampung lainnya, lebih gurih, dan lengkap kenikmatannya dengan paduan sambalnya mirip bumbu sate. Sajian ini membuat badan kami tegak kembali setelah perjalanan yang melelahkan, karena sebagian besar dari kami adalah jama’ah Tasik yang berangkat setelah Jum’at shubuh (malamnya habis pengajian). Mereka sudah tiba di bandara sekitar jam 2.30 siang, padahal keberangkatan pesawat jam 7.15 malam (ditambah jadwal penerbangan yang mundur satu jam). Pagi hari kami sudah sarapan nasi goreng dengan kerupuk ceker. Kerupuk ceker inilah yang juga khas selalu kami nikmati setiap berkunjung ke Lombok. Kerupuk ceker ini rasanya seperti kerupuk kulit, meski agak sedikit keras panganan ini tetap mudah dikunyah (lebih gres) dengan sedikit ‘perjuangan’. Pagi hari setelah sarapan kami berangkat menuju Pesantren Al-Hafiziyyah di desa Masjuring, Lombok Tengah. Setelah acara kami dijamu dengan sajian khas Lombok. Satu nampan berisi aneka lauk pauk. Ada sayur ares yang berasal dari batang pohon pisang. Sayur pepaya dibumbu kuning. Daging ayam sapi dengan aneka bentuk (semur, sate, kari, gulai), daging cincang berbalut pare, dll. Khusus daging sapi ini, rasa teksturnya agak sedikit berbeda dengan daging sapi yang ada di Jawa, rasanya mengarah (condong) kepada daging rusa. Memang rata-rata sapi di lombok dipelihara bebas (liar), tidak seperti sapi di Jawa umumnya yang dipelihara di kandang. Ada celorot, kue yang dibungkus dengan pilinan daun janur, kue bako yang rasanya manis (seperti tembakau yang dipadatkan). Semua sajian ini menunjukkan perhatian masyarakat pondok terhadap kehadiran kami. Sore hari kami disuguhi kolak pisang dicampur dengan ketan. Rasanya seperti bulan puasa aja. Karena di Jakarta panganan seperti ini baru dijumpai di saat berbuka puasa. Pada hari minggu sebelum kami menuju pantai, kami mampir ke sebuah rumah makan bergaya Lombok. Beberapa tahun lalu tempat ini begitu padat dengan pengunjung, tapi tidak saat kami datang. Kami masih bisa memilih tempat yang paling nyaman menurut kami. Kami duduk di sebuah saung yang kokoh, di setiap sisinya ditopang oleh 4 tiang yang terbuat dari kayu nangka. Di tengahnya terdapat sebuah meja makan besar yang bisa untuk menyajikan 10 sd 2 orang. Warna kayu menambah gaya tradisional rumah makan ini. Di sini kami menikmati hidangan soto ayam yang terkenal di daerah Lombok barat. Konon, tempe gorengnya istimewa dan cuma ada di waktu siang hari saja (malam tidak ada). Rasa gurihnya soto di sini memang beda dengan yang lain. (apa lagi kalau lagi lapar nymmm!) Di pantai yang terkenal indah ini (konon melebihi Bali kata turis-turis), kami menikmati kelapa yang manis airnya tanpa gula. Menikmatinya sangat tepat setelah berjam-jam menenggelamkan diri ke air laut. Air kepala terasa nyess di tenggorokan. Stamina menjadi pulih kembali. Setelah bersih-bersih, kami terpaksa ‘berhadapan’ dengan aneka hidangan pantai. Ada ikan yang disate (dipanggang dengan sebatang bambu), sayur plecing (kangkung) yang empuk banget. Kangkung Lombok ini berbeda dengan kangkung di berbagai tempat, lebih banyak batangnya dan sedikit daunnya. Di Lombok pun tanaman ini tidak bisa ditanam di sembarang tempat (hanya di lokasi tertentu saja). Konon ada anak menteri yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Lombok, hanya memesan kangkung saja sebagai oleh-oleh. Sop Balungan adalah hidangan pamungkas, yang pernah kami nikmati di rumah P Ardiwan. Sop Balungan isinya seperti sop iga, yang terdiri dari tulang iga yang berbalut daging. Sop ini seperti punya ‘hak cipta’, karena tidak semua orang Lombok bisa memasaknya. Sop Balungan yang kami nikmati ini bukan buatan sendiri melainkan dipesan langsung dari pembuatnya (pernah masuk acara Wisata Kuliner di sebuah stasiun Tv). Rasanya srupuutt! Kuahnya yang mantap berbeda dengan rasa sop iga di tempat manapun. Khas sekali rasanya. Keringat keluar sehabis makan diterpa angin semilir membuat badan semakin sueger. Wisata Bahari Tidak seperti tahun-tahun lalu, kami diajak oleh Pak Ardiwan berenang dan menyelami keindahan pantai Senggigi, kali ini kami dibawa ke pantai di Lombok Utara, tepatnya di dekat Pulau Gili Terawangan. Pantai tempat kami bersantai ini diapit oleh beberapa pulau kecil (mirip Sumur, Ujung Kulon), jadi tidak khawatir dengan ombak besar dan dijamin tidak terlalu dalam airnya. Saat kami menginjakkan kaki di bibir pantai, beberapa puluh meter kaki berdiri, yang kami rasakan hanyalah tanah dan rumput-rumputan pantai. Saat berenang kaki terasa nyaman dan tidak perlu khawatir dengan batu-batu karang kecil tajam yang biasa ada di pantai. Anak-anak dan wanita menjadi terasa nyaman berenang sepuasnya di sini. Di area pantai melengkung itu sepandangan mata tidak terlihat ada yang berenang, hanya kami saja (12 orang), padahal hari itu adalah hari Minggu di awal bulan. Pantai itu benar-benar menjadi ‘milik’ kami rupanya. Syekh terlihat begitu menikmati kenyaman tempat ini. Beliau lah yang terakhir dari kami yang selesai menikmati pantai karena kami sudah merasa lelah berenang. Satu persatu dari kami mencoba alat snorkeling menyelam dan menikmati dasar pantai. 50 meter dari bibir pantai, kedalaman laut belum menenggelamkan badan kami seluruhnya. Air terasa tidak terlalu asin. Kejernihan air laut membuat apa yang ada di dasar pantai terlihat begitu jelas. Hal ini juga terlihat dari atas pesawat ketika beranjak meninggalkan Lombok menuju Jakarta. Kalau mau memancing di tempat ini ada perahu yang disewakan, bisa untuk mengantar kita berkunjung ke beberapa pulau sekitar. Namun, saat itu kondisinya tidak terlalu menguntungkan untuk memancing. Konon, kalau malam hari jika mau, kita bisa mendapatkan udang atau lobster dengan mudah di dasar laut karena sedang istirahat. (Bersambung) Materi ceramah selama di Lombok dapat disimak di Gallery Audio (www.al-idrisiyyah.com) Insya Allah dalam proses Lq, 6 Maret 2011 Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/201/dakwah-lombok-1-4-april-2011-bag-pertama

Sabtu, 18 September 2010

Safari Dakwah Malaysia

Dalam rangka memperluas dakwah dan membuka diri dengan pergaulan internasional, Pada tanggal 16 Juli 2010 Mursyid Tarekat al-Idrisiyyah, Syekh Muhammad Fathurrahman MAg beserta beberapa jama’ah al-Idrisiyyah melakukan silaturahim dengan ikhwan al-Idrisiyyah lainnya yang berada di luar negri yang bertempat di Malaysia. Kegiatan tersebut dihadiri oleh jama’ah thariqt al-idrisiyyah yang berasal dari Indonesia, sudan, singapura dan juga tuan rumah yaitu Malaysia, acara yang berlangsung kurang lebih selama lima hari ini berkunjung ke berbagai kawasan mulai dari kuala lumpur, negri Sembilan dan serawak Agenda kegiatan yang dilakukan dalam acara ini antara lain tausiyah, dzikir berjama’ah dan kunjungan ke beberapa daerah di Malaysia. Kedatangan Syekh Muhmmad Fathurrahman beserta rombongan disambut dengan baik, pada kesempatan itu beliau diminta untuk menyampaikan tausiyah di hadapan para jama’ah Idrisiyyah lainnya. Hal ini memberikan sinyalmen bagi kita sebagai Jama’ah Idrisiyyah, bahwasanya dakwah idrisiyyah bisa diterima dan disambut dengan baik oleh masyarakat di luar Indonesia khususnya Malaysia. Sehingga kita sebagai jama’ah tidak perlu lagi ragu untuk menyampaikan nilai-nilai Islamiyah itu, tentunya dengan cara-cara yang baik sebagaimana diajarkan guru kita, bil hikmah wa mau’izhotil hasanah. Kegiatan safari dakwah Malaysia ini merupakan wujud dari konsistensi al-idrisiyyah untuk mengepakan sayap dakwah al-Islamiyah sampai ke luar negri, menyampaikan risalah-risalah Ilahiyah kepada seluruh umat, semoga kita semua senantiasa disertakan oleh Allah SWT dalam setiap gerak perjuangan menyampaikan dakwah Islamiyyah guru kita. Amin Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/63/safari-dakwah-malaysia