Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

SIARAN LANGSUNG

Populer Posts

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Prinsip Keseimbangan (Wasatho) Dalam Puasa


(Bagian pertama dari tiga tulisan)

Salah satu prinsip ajaran Islam adalah wasatho (seimbang). Firman Allah SWT: “Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang memperhatikan keseimbangan (tujuannya) supaya kalian yang memasuki agama Allah menjadi saksi bagi umat manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” [Q.S. Al-Baqarah: 143]

Ummatan Wasatho adalah umat yang memperhatikan keseimbangan. Bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Dalam Al-Quran manusia disebut sebagai insan dan basyar. Basyar artinya bentuk tunggal manusia yang dilihat dari sisi kemanusiaannya (kebutuhan fisik atau biologis). Contohnya ketika Rasul diutus di tengah-tengah kaumnya, pada umumnya mereka menolak. Karena mereka melihat dari sisi basyariyah-nya (kemanusiaan). Mereka merasa Rasul yang diutus atas mereka itu sama dengan mereka dalam hal makan, minum, berkeluarga, dan lain sebagainya. Maka Rasul mengungkapkan ‘Maa ana illaa basyarun mitslukum’ [betul aku ini hanya manusia biasa seperti kalian] tetapi yuuhaa ilayya [aku diberi wahyu] oleh Allah.

Ketika Allah menyebut manusia dengan ‘insaan’ menunjukkan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Karena manusia yang utuh itu terdiri dari 2 unsur tersebut maka ajaran Islam yang mengajarkan prinsip wasatho mengandung arti keseimbangan 2 kebutuhan, jasmani dan ruhani. Banyak manusia yang kehidupannya mengedepankan jasmani saja (hedonisme) sehingga hidupnya hanya memikirkan makan, tidur, sandang, pangan, papan.

Hamba yang memenuhi keseimbangan dalam kehidupannya ini menjadi paripurna dan akan semakin mengenal Allah dan aturan-aturan-Nya. Jika manusia sehat jasmani dan ruhaninya akan maksimal bergerak dan berkembang potensi kedua unsur tersebut. Di balik seluruh ajaran Islam berupa perintah dan larangan adalah untuk mengembangkan kedua potensi yang seimbang.

Jangan mengira bahwa puasa itu berdiri atas sisi jasmani saja atau ruhani saja. Shaum itu sama dengan ibadah lainnya, yakni untuk memenuhi kedua unsur, jasmaninya supaya sehat dan ruhaninya menjadi berkualitas.

Dunia medis mengakui puasa sebagai  salah satu sarana terapis dan dapat menanggulangi berbagai penyakit yang timbul akibat makan yang berlebihan dan terus menerus tanpa henti sepanjang tahun. Ajaran ini diletakkan sejak berabad-abad yang lalu, karena tidak hanya umat Islam saja yang melaksanakannya. Meski 14 abad yang lalu pengetahuan tentang kesehatan masih sederhana, tapi pelaksanaan Shaum ini telah memenuhi persyaratan untuk menjadikan manusia sehat secara jasmani.

TAQWA, Tangga Pencapaian Akhir Puasa (Bag. 2)

(Bag. Kedua dari dua tulisan)

Universitas Ramadhan adalah pelatihan individu dan sosial menuju martabat ketakwaan, yakni membentuk SDM yang bersikap Sami’na wa Atho’na, turut perintah dengan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangnya. Jika Ramadhan ini tidak membentuk sikap ketaqwaan, maka gagallah usaha dan jerih payah perjuangan  ramadhan yang dilakukannya.

Konsep ketaqwaan sebagai halte terakhir ramadhan bukanlah hanya dilakukan dalam 1 bulan, namun perjalanannya berkelanjutan. Konsep ketaqwaan adalah konsep harian bukanlah bulan ramadhan saja. Firman Allah SwT: ‘Ayyaamam ma’duudaat’, pada hari-hari yang ditentukan (bukan bulan-bulan yang ditentukan).

Buah ramadhan adalah kesabaran. Namun kesabaran itu tidak bernilai jika tidak didasari nilai ketaqwaan. Banyak umat lain selain Islam menyodorkan doktrin kesabaran, namun kesabarannya tiada arti di sisi Allah karena tidak didasari sikap ‘turut perintah’ terhadap konsep keselamatan.

Rasa lapar juga merupakan bagian penderitaan para Nabi dan Shalihin terdahulu yang manfaatnya teramat besar bagi madrasah pembenahan jiwa. Namun keadaan lapar itu juga tidak bearti di sisi Allah jika tidak berpijak pada sikap ‘turut perintah’. Sikap ini menjadi acuan semua ibadah kepada Allah.

Karena sikap turut perintah-lah yang menyebabkan kita menghadap ke kiblat setiap hari. Sikap inilah yang menyebabkan kita mau mencium hajar aswad, mengelilingi bangunan batu (Ka’bah), berlari-lari (Sa’i), melaparkan diri (berpuasa), dan sebagainya.

Saat seseorang kembali ke fitrah (titik nol), dikhawatirkan ia akan kembali lagi ke koordninat minus jiwa karena ia belum mengenal nilai-nilai ketaqwaan, yakni turut perintah. Jika kita mampu berbuat di bulan Ramadhan, mengapa di bulan lainnya tidak?

“Betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak maraih apa-apa melainkan rasa lapar dan dahaga”, Nabi Saw mengingatkan. Karena ia tidak mampu mempersembahkan nilai ketaqwaan sesudah fitrahnya.

TAQWA, Tangga Pencapaian Akhir Puasa (Bag. 1)

(Bag. Pertama dari dua tulisan)

Ramadhan merupakan bulan suci yang menyucikan, meluruhkan berbagai kekotoran jasad dan jiwa. Sejuta keutamaannya membuat orang merasa rugi jika menyia-nyiakan keberadaannya.

Ramadhan dengan berbagai kelebihannya menjadi berharga karena ‘perintah’. Berpuasa menjadi tidak bernilai jika di satu sisi kita ‘mengejar’ keutamaan Ramadhan, namun di sisi lain kita meninggalkan aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Seringkali terjadi jika seseorang berpergian jauh (musafir) atau sakit, ia merasa kurang enak (sreg)  jika berbuka. Atau merasa kurang afdhal (utama) jika berbuka. Atau merasa berat jika ia mesti membayarnya di lain waktu. Ia merasa rugi jika ‘kehilangan’ puasa ramadhan-nya, tapi ia tidak merasakan kasih sayang Allah telah lenyap dari jiwanya. Ia lebih mengutamakan karunia ramadhan daripada yang menciptakan ramadhan (Allah SwT).

Ramadhan mesti diisi dengan ketundukan dan ketaatan, dan tidak mesti dengan puasa. Apalah arti puasa yang tidak menyambut sifat Rahim Allah kepadanya dengan meninggalkan rukhshah (keringanan) yang Allah berikan kepadanya.

Allah SwT berfirman: ‘Allah menghendaki kemudahan untukmu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu’. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah apabila pergi jauh (musafir) dia berbuka puasa dan shalat Qashar”.  (HR. Thabrani)

“Sesungguhnya Allah mencintai jika kemurahan-kemurahan-Nya diambil sebagaimana Dia mencintai jika fardhu-fardhu-Nya dikerjakan. Sesungguhnya Allah mengutusku untuk menyampaikan agama yang lurus lagi mudah, yakni agama Ibrahim As”. (HR. Ibnu ‘Asakir)

“Kerjakanlah yang fardhu, terimalah keringanan (kemurahan-Nya), biarkanlah orang-orang, maka sungguh kamu dipelihara dari gangguan mereka”. (HR. Al-Khathib)

Tujuan puasa adalah meraih nilai-nilai ketaqwaan, bukan semata-mata mencari-cari keutamaan Ramadhan dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bukanlah dengan adanya ramadhan kita membabi buta menggapai gelimang cahayanya, tapi kita tinggalkan esensi kehambaan kita kepada Allah.

Tiga Pilar Bangunan Islam

Bangunan Islam terdiri dari 3 pilar, seperti yang dipaparkan dalam koran terlampir.

Ramadhan sebagai Madrasah Ruhani

Hari ini bagi mereka yang cinta kepada Allah dan perintah-Nya akan melepaskan kerinduannya, setelah getaran kebahagiaan Ramadhan membayanginya waktu demi waktu.

Bulan Ramadhan ini adalah madrasah ruhani bagi orang-orang yang beriman. Sebagai bengkel ruhaniah, ibadah di bulan suci ini akan menservice jiwa manusia yang telah mengalami perjalanan waktu cukup lama sejak Syawal tahun lalu sampai penghujung Sya’ban.

Ibarat sebuah mobil yang terus dipakai tanpa henti dengan medan yang berbatuan dan terjal, membuat kendaraan rusak berat. Olinya menjadi kotor, ban gundul, baut-baut kendor, mesin kotor, body-nya sudah lecet dan penyok. Kendaraan yang dipakai itu sudah mengalami banyak kerusakan.

Begitulah jiwa (ruhani) kita, sebelas bulan telah banyak aktivitas yang telah dilewatkan, Dari urusan pribadi, keluarga, suami istri, anak, berekonomi, berpolitik, bermasyarakat sampai bernegara. Efek-efek aktivitas itu disadari atau tidak banyak menyebabkan jiwa yang lemah jatuh kepada jurang nista dan dosa.

Ibarat kendaraan yang sudah ringsek dan jalannya sudah lambat, maka ruhani perlu diberikan full service (perbaikan total). Maka bulan Ramadhan dihadirkan Allah untuk umat akhir zaman ini sebagai bulan untuk menservice jiwa orang yang beriman setelah dipergunakan selama 11 bulan lamanya.

Panca indera, lisan, tangan, kaki, hingga pergerakan kita mengakibatkan dosa demi dosa. Dosa yang ditimbulkan itu bertumpuk dan mengkristal. Taubat harian tidak cukup untuk menservice semuanya. Perlu ada service full untuk mengurai dan membersihkannya.

Dengan Bulan Ramadhan orang beriman ditempa dengan segala bentuk ibadah, menjadikan ruh (jiwa) manusia seperti kendaraan yang mengalami perbaikan total, baik mesin maupun body-nya hingga menggunakan assesoris terbaru sebagai hiasan untuk mempercantiknya. Saat datangnya Idul Fitri jiwa kita ibarat kendaraan yang sudah diservice (aman, nyaman dan indah) dan layak pakai. Jiwa kembali orsinil (fitrah) lagi ibarat kendaraan yang ada di dealer yang siap keluar. Itulah hasil madrasah Ramadhan.

Oleh karenanya Allah akan turunkan moment 10 hari Ramadhan khusus untuk menggempur dosa yang sudah mengkristal (karat), karena taubat harian tidak cukup untuk membersihkannya. Allah turunkan ampuanan besar bagi orang yang beriman pada moment itu, sehingga tidak ada dosanya yang disisakan saat memasuki Idul Fitri.

Betapa besar dan agung Ramadhan itu sehingga pantas ditunggu dan dinanti-nanti. Dan orang yang bergembira dengan kedatangannya saja diharamkan jasadnya dari api neraka.

Ramadhan adalah Bengkel Ruhani

Ramadhan adalah Bengkel Ruhani

Hikmah adanya Ramadhan di antaranya sebagai bengkel bagi ruhani mnusia. Ibarat kendaraan yang telah dipergunakan selama 11 bulan non-stop,  akan memerlukan service.

Apalagi yang menggunakannya seperti supir angkot yang mengejar setoran. Kendaraan pun tidak terhindar dari gesekan, senggolan atau tabrakan dari berbagai sisi. Penyok dalam luar, goresan, rusak onderdil mesin dan sebagainya tidak terelakan.

Kondisi tersebut memerlukan perbaikan. Kendaraan pun mesti diservis agar kembali nyaman digunakan.

Ibadah manusia tidak sama seperti malaikat yang monoton. Ibadah manusia bersifat kompleks dan penuh dinamika. Sejak tidur hingga tidur kembali manusia diberikan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan sehingga menjadi nilai ibadah. Adalah keniscayaan jika dalam kehidupan ini dalam hubungan horisontal akan mengalami gesekan di berbagai aspek, terutama dengan orang yang terdekat.

Manusia tidak luput dari sifat kelemahan yang membuatnya tergelincir, alpa atau salah. Dari hubungan mikro dalam berumah tangga hingga hubungan lebih luas dalam bermasyarakat dan bernegara tidak lepas dari 'gesekan' yang menimbulkan kotoran atau penyakit batin, baik disengaja ataupun tidak.

Segala kotoran itu tentu membutuhkan servis (perbaikan). Ramadhan bagai bengkel ruhani yang akan menstabilkan diri kita dari segala kerusakan setelah menjalani 11 bulan beraktivitas.

Kembali kepada diri kita, mau diservis atau tidak. Semoga diri kita termasuk orang yang butuh  diservis d bulan Ramadhan.

Petikan Tarhib Ramadhan, Ciledug, 28 Mei 2016

Syekh Fathurahman: Riyadlah dan Mujahadah Kunci Sukses Dakwah

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl [16]: 125)


al-idrisiyyah.com, Cisayong - "Seorang juru dakwah adalah sosok teladan karena itu dia harus memiliki mental yang matang". Pimpinan Tarekat Al-Idrisiyyah, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman menyampaikan lontaran pernyataan bernada kritik ini dalam seminar bertajuk 'Metode Dakwah Anti Radikalisme' [Berita terkait : Bimtek Dakwah untuk para Da'i] , seminar yang diselenggarakan Divisi Dakwah Tarekat Al-Idrisiyyah bekerjasama dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Tasikmalaya, yang bertempat di Aula Pondok Tarekat Al-Idrisiyyah, Pagendingan Tasikmalaya, Sabtu (26/12/2015). Selain Jamaah Al-Idrisiyyah, dihadiri pula oleh perwakilan ormas yang memenuhi Aula berkapasitas 500 orang ini. Acara ini merupakan rangkaian dari Festival Pekan Qini Nasional ke 130 di Pondok Pesantren Al-Idrisiyyah.  “Untuk menjadi pribadi yang matang ini harus menjalani riyadlah dan mujahadah,” tegas Syekh Fathurahman kembali.

Konsepnya, masih kata Syekh Fathurahman, sebenarnya banyak sekali bisa mengambil dari buku-buku yang disusun Imam Ghazali atau Imam Khusyairi. Dengan menjalani riyadlah dan mujahadah, barulah seseorang layak menjadi pemimpin (da'i).


“Dengan riyadlah dan mujahadah, maka dakwah akan terjaga dari anasir-anasir yang menghancurkan dakwah itu sendiri,” tuturnya lagi.

Dalam kesempatan ini Syekh Fathurahman juga mengungkapkan pengamatannya atas fenomena dakwah, dimana saat ini ada artis yang akhirnya menjadi dai, untuk hal ini layak mengucapkan syukur Alhamdulillah. Tapi, justru ada juga yang awalnya da'i malah menjadi selebritis, “Untuk hal ini layak mengucap Innalillahi,” kata Syekh Fathurahman yang disambut gelak hadirin.

Bahkan, beliau melanjutkan, ada fenomena mubaligh amplop. Tipe mubaligh seperti ini bisa jalan kalau ada tiketnya, untuk dalam kota dan luar kota berbeda tarifnya, “Jadi sudah seperti bis antarkota saja,” cetusnya.


Dalam kesempatan ini Syekh Fathurahman mengajak DDII dan juga ormas-ormas Islam lainnya untuk serius mengkader pemuda Islam untuk berdakwah. Sehingga tercapai sosok da'i yang matang, “Termasuk dai yang menguasai medan dakwah!” tegasnya.

Menurutnya seorang da'i perlu mengedepankan dakwah bilhikmah seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat An-Nahl [16] ayat 125. Dalam Al-Quran kata-kata ajakan memahami dan mengamalkan Al-Kitab senantiasa disandingkan dengan bilhikmah. 


Dalam hal ini Syekh Fathurahman mengajak hadirin untuk meneladani dakwah Nabi Musa dan Harun.


Pertama, Jangan lupa berzikir kepada Allah SWT.


Kedua, Ucapan yang lemah lembut. Meski kepada Firaun yang sudah jelas kezalimannya, Islam tetap mengedepankan kelemah lembutan, (Qaulan layyina). Termasuk dalam hal ini adalah seorang juru dakwah menargetkan hati manusia, “Sentuh hatinya!” terang Syekh Fathurahman.


Ketiga, Tidak ada paksaan.
Dalam pandangan Syekh Fathurahman, dari metode dakwah Nabi Musa ini sebenarnya sudah lengkap, karena menyangkut segi Retorika, Metode dan materi dakwah sekaligus.

Selain Syekh M Fathurahman, Seminar Dakwah M. Roinul Balad, S.Sos.I selaku Sekretaris DDII Provinsi  Jawa Barat dan Ustadz Ali Abu Khatib, Lc dari Ketua ikatan harokah dai DDII Pusat turut mengisi acara ini.(em)

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/593/syekh-fathurahman-riyadlah-dan-mujahadah-kunci-sukses-dakwah

Teknologi Membantu Manusia dalam Bertarekat

Al-Idrisiyyah.com - Pesantren FADRIS (Fathiyyah Al-Idrisiyyah) Tasikmalaya sebagai basis dari tarekat Al Idrisiyyah Indonesia terus berbenah diri dan meningkatkan pelayanan bagi kebutuhan bimbingan jasmaniyah dan ruhaniyah untuk para santri, jamaah, dan masyarakat pada umumnya, bahkan lebih dari itu kepada mereka yang telah menjadi alumni pondok pesantren pun masih terus mendapatkan bimbingan.

Hal ini terjadi secara turun temurun dari generasi ke generasi dikarenakan keberadaan figur sentral dalam tarekat yakni sang guru Mursyid yang dalam pengajarannya senantiasa mendapatkan bimbingan dari guru-guru sebelumnya, dari Rosulullah Saw dan yang ujungnya bersumber dari pemilik Nur (cahaya) yaitu Allah Subhanhu wata a'la. Maka menjadi hal yang mutlak bagi manusia sebagai makhluk senantiasa akan selalu butuh akan pancaran cahaya dari sang penciptanya (al Khalik) Kebutuhan bimbingan ini terus terpatri dalam jiwa para santri dan jamaah ketika mereka bertebaran di muka bumi dalam menggapai Rahmat dan Karunia Allah, sehingga sebagian diantara mereka ada yang secara kontinyu kembali ke pesantren untuk 'merecharge' ilmu dan jiwanya, dan ada pula yang terhalang waktu dan jarak sehingga tidak dapat kembali kepada gurunya untuk mendapatkan pengajaran kembali secara rutin.

Dengan kondisi itu, maka pondok pesantren berupaya memanfaatkan teknologi informasi (TI) [Baca: Ngaji Online Yuk] untuk mengakomodir kebutuhan bimbingan tersebut dengan mengembangkan teknologi radio streaming dan tv streaming, sebagai media pengajian secara online. Sekilas tentang teknologi Streaming Teknologi streaming dikenal juga sebagai streaming media adalah suatu teknologi untuk memainkan atau menjalankan file (audio maupun video) dari sebuah server streaming (web page) baik secara langsung atau rekaman, dimana file tersebut harus di encoding terlebih dahulu menggunakan data rate tertentu yang cocok untuk ditransmisikan melalui internet atau jaringan yang sesuai dengan kapasitas bandwith dari user. Data rate yang digunakan harus cocok dengan data rate pelanggan atau user.
Sumber : http://www.blognazcules.com

Radio streaming juga dikenal sebagai web radio, net radio, internet radio atau e-radio adalah layanan penyiaran audio yang ditransmisikan melalui internet. Layanan radio internet dapat diakses dari belahan dunia manapun, misalnya, orang dapat mendengarkan stasiun radio streaming Al-idrisiyyah dari Eropa , Amerika, Malaysia, Hongkong, Arab, dan wilayah lainnya selama dapat terhubung dengan internet. teknologi sangat sederhana dan dapat dengan mudah di akses dengan perangkat-perangkat yang biasa kita gunakan sehari-hari, seperti komputer, laptop, tablet, handphone smartphone . tentunya harus terhubung lebih dulu dengan internet baik melalui layanan internet operator selular ataupun media wi-fi yang tersebar di sudut-sudut bangunan tertentu.

Cara mendengarkan Radio Streaming Al-Idrisiyyah Berikut di uraikan satu persatu bagaimana caranya untuk dapat mengakses radio streaming Al Idrisiyyah yang berpusat di Pondok Pesantren Al Idrisiyyah, Jl Raya Ciawi KM.79 , Kp. Pagendingan Ds. Jatihurip Kec. Cisayong Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. ANDROID SMARTPHONE :

Download Xiialive di Playstore, setelah terinstal Masuk ke Menu Favorite, kemudian Add Url : http://radio.al-idrisiyyah.com:8000 Save/OK BLACKBERRY SMARTPHONE :

Buka Browser kemudian ketik URL http://radio.al-idrisiyyah.com WINDOWS PHONE Download Radyo di Appstore, setelah terinstal masuk ke Menu Custom Stations, Klik simbol +, kemudian Add Url : http://radio.al-idrisiyyah.com:8000 setelah itu OK Cara menyaksikan Al-Idrisiyyah TV Streaming ANDROID SMARTPHONE : Download UC Browser di Playstore, kemudian download dan Install kan Adobe Flash Player Link Download Flash Player: Flash Player Ice Cream Sandwich(ICS), Jelly Bean(JB), Kitkat,Lollipop:

download.macromedia.com/pub/flashplayer/installers/archive/android/11.1.115.81/install_flash_player_ics.apk Flash Player Ginger Bread :

download.macromedia.com/pub/flashplayer/installers/archive/android/11.1.111.73/install_flash_player_pre_ics.apk Setelah terinstal silahkan buka UC Browser, masukan URL http://tv.al-idrisiyyah.com atau silahkan buka Link berikut ini Untuk Pengguna Android, Blackberry & Windows Phone :

rtsp://alidrisiyyahtv.onlivestreaming.net/alidrisiyyahtv/livestream/ Untuk Pengguna IPhone :

http://alidrisiyyahtv.onlivestreaming.net/alidrisiyyahtv/livestream/playlist.m3u8 *

Tambahan : Setelah Install Adobe Flash Player, maka Radio & TV Al-Idrisiyyah Streaming Bisa Langsung didengarkan & disaksikan menggunakan UC Browser, dengan URL Radio : http://radio.al-idrisiyyah.com

TV : http://tv.al-idrisiyyah.com

Selamat Mendengarkan & Menyaksikan... Terima Kasih (TIM KOMINFO[oprektor])

Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/496/teknologi-membantu-manusia-dalam-bertarekat

Pernik-pernik PQN Dzulhijjah 2011

Hujan deras mengguyur wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Begitu juga Jakarta yang baru beberapa hari telah diberikan rasa nyaman dengan mulai turunnya hujan deras sejak berbulan-bulan terik matahari terasa membakar kulit di siang hari. Sore itu, sejak Ashar hingga tengah malam hujan rintik tak kunjung henti. Tapi acara PQN terus berjalan. Dari kejauhan suara Syekh Fathurahman, Mursyid Al-Idrisiyyah, menggema di balik suara riak air akibat hujan yang tiada henti. Cuaca dan hawa dingin menguji kesetiaan peserta PQN di bulan Haji tahun ini. Siang itu tak disangka ada peristiwa kecil yang membawa sedikit ketegangan di lingkungan Pesantren. Secara tiba-tiba beberapa orang yang mengaku berasal dari kelompok FPI datang ke Pesantren. Mereka masuk ‘tanpa permisi’ ke lingkungan Pesantren. Dengan dalih membela yang ma’ruf dan menghancurkan yang munkar, mereka berusaha menyelidiki suatu kasus internal Pesantren yang sampai ke telinga mereka. Mereka terlihat berkeliaran di lingkungan pesantren, bahkan ada di antara mereka yang asik merokok (seperti menunggu sesuatu). Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka Pengurus mengajak mereka untuk masuk ke dalam kantor untuk berdialog, agar keinginan atau maksud kedatangan mereka bisa diketahui. Semula beberapa di antara mereka menolak, dan berusaha menemui langsung pimpinan Pesantren yang saat itu sedang istirahat. Tapi akhirnya mereka bersedia. Beberapa pengurus mencoba menjelaskan duduk persoalannya, dan masalah tersebut sudah dibahas di tingkat pemerintah setempat (Kades dan Koramil) agar tidak terjadi bias yang menggangu ketentraman lingkungan yang sudah kondusif. Setelah mendengar penjelasan dari Pengurus Al-Idrisiyyah, bahwa masalah ini merupakan masalah internal (keluarga) Al-Idrisiyyah, maka mereka yang tadinya terlihat ingin membela nasib si pengadu, akhirnya memposisikan diri mereka sebagai penengah atau pendengar. Sebagai jalan tabayun, dihadapkanlah si pengadu dengan Syekh M. Fathurahman selaku pimpinan Pesantren. Maka semakin jelaslah bahwa, kasus yang ingin dibela atau diperjuangkan oleh mereka ternyata hanyalah masalah keluarga yang menyangkut masalah tanah wakaf (bukan warisan). “Seluruh aset Pesantren ini baik yang bergerak maupun tidak bergerak adalah berstatus wakaf, alias milik Pesantren. Dan tidak ada kepemilikan pribadi”, jelas Syekh M. Fathurahman. “Karena Guru kami adalah sosok Al-Ulama yang tidak mewarisi harta kekayaan, tapi mewarisi ilmu”. Setelah dijelaskan bagaimana status wakaf tanah di seluruh Pesantren maka anak-anak muda yang mengaku habis menghadiri pertemuan FPI di Ciawi ini memahami. Di akhir penjelasannya Syekh M. Fathurahman mengingatkan kepada rombongan tersebut, sebagai sebuah organisasi Islam yang besar, hendaknya mengedepankan adab atau tata krama dalam bertamu. Karena Islam mengajarkan masalah adab. Jika ingin datang ke suatu tempat (apalagi lembaga Pesantren), seharusnya melayangkan surat kunjungan terlebih dahulu sehingga orang yang didatangi bisa memahami apa maksud dan tujuan mereka datang. Sebab setiap wilayah memiliki aturan sendiri. Jika masalahnya seperti sekarang, akan menjadi jelas posisi mereka, apakah menjadi pendamping kasus, lawyer, pembela hukum, atau lainnya. Andai kedatangannya hanya untuk bersilaturahim, maka kami lebih senang. Karena menambah jalinan persaudaraan dan saling mengenal sesama lembaga Islam. Setelah pembicaraan itu, rombongan diajak ke lokasi pembangunan pesantren yang dianggap penyebab masalah supaya menjadi jelas duduk permasalahannya. Maka selesailah kisah di hari ini nanti malam proses pelantikan pengurus baru menanti. Lq. Kamis, 3 November 2011 Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/263/pernik-pernik-pqn-dzulhijjah-2011

Dialog Tentang Perjalanan Haji dan Umrah

Seorang murid mengisahkan pengalaman sewaktu umrah, dia merasa heran bahwa kenikmatan ibadah dan dzikir ketika di Mekah itu berbeda dengan di tempat Syekh Mursyid. Pencapaiannya kepada tingkat kekhusyu'an dan kenikmatan dzauq saat berdzikir tidak semudah ketika ia beribadah bersama Syekh Mursyid. Syekh M. Fathurahman mengatakan bahwa segala sesuatu itu memiliki pintu. Kalau kita sudah menemukan 'pintu gerbang' kekhusyuan maka ia akan sulit mencapai khusyu' melainkan ia mesti melewatinya. Dahulu Syekh Muhammad bin Ali as-Sanusi pernah bermujahadah agar mendapatkan curahan bimbingan langsung dari Rasulullah Saw. Maka pada malam harinya ia didatangi oleh Rasulullah Saw. Dan sabda Beliau Saw ketika itu, 'Engkau mesti melewati pintu Syekh Ahmad bin Idris!' Oleh karenanya, meskipun seseorang melaksanakan ibadah di Mekah atau Madinah, jika ia tidak melewati 'pintu'nya, maka pencapaian ibadahnya hanya sebatas karunia sederhana yang umumnya dirasakan orang seperti bisa menangis atau merasa tentram. Pintu yang dimaksud adalah Ulama penerus kepemimpinan Kenabian (Waratsatul Anbiya) yang terpilih di setiap masa. Allah itu bersifat Adil, ke Mekah dan Madinah itu sebatas melaksanakan kewajiban saja. Sedangkan pengalaman batiniyyah (ruhaniyyah) itu bisa dirasakan dan diraih tanpa mesti pergi ke sana. Itulah yang digapai oleh orang-orang yang mengerti kenikmatan (karunia) dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mekah saat ini tidak seperti pada masa dahulu. Dahulu Mekah dijadikan sebagai pusat gerakan perubahan dunia muslim. Sepulang ibadah haji, orang-orang dahulu membawa semangat, ide (gagasan), konsep dan gerakan perubahan di daerahnya masing-masing. Contoh, Perang Paderi yang dimotori oleh Imam Bonjol, Syekh Yusuf Makasar, dsb. Oleh karenanya pihak penjajah dahulu mengidentifikasi orang-orang yang selesai ibadah ke Mekah itu dengan sebutan 'Haji'. Hal ini untuk memudahkan mereka mengantisipasi semangat militan para Haji dalam menentang kaum penjajah. Sejarah mencatat bahwa alasan perpindahan tempat pengasingan Syekh Yusuf Makasar dari Srilanka kemudian akhirnya ke Afrika Selatan adalah karena ia selalu dikunjungi oleh para jama'ah haji yang bertransit. Sepulang haji, para jama'ah membawa oleh-oleh semangat perjuangan untuk menentang penjajah. Dahulu, ada pusat Sufi dan gerakan Islam di Jabal Abu Qubais. Saat ini sudah digusur menjadi istana kerajaan. Orang-orang banyak meminta dukungan spirit perjuangan dari tokoh-tokoh Ulama masa itu. Saat ini, yang kita saksikan adalah banyak orang yang sepulang haji tidak mampu membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, jangankan lingkungan sekitar, dirinya sendiri saja belum bisa berhijrah. Perubahan Mekah dan Madinah adalah hanya keindahan masjidnya saja. Sedangkan keberadaan keduanya saat ini bukan sebagai pusat komunitas Islam dunia yang dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi umat saat ini. Mekah tampak hanya sebagai pusat ritual ibadah haji saja. Syekh M. Fathurahman berkata, 'Dunia ini berputar. Allah akan menguji manusia dengan berbagai kenikmatan dan penderitaan. Saat ini Islam sedang terpuruk, dan suatu saat Allah akan mengembalikan keadaan kepada posisi yang semestinya. Cepat atau tidaknya perubahan bergantung dari kemauan umat Islam untuk mau berubah atau merubahnya'. Lq, 19 April 2011 Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/205/dialog-tentang-perjalanan-haji-dan-umrah

Hindarilah Kebathilan Agar Tidak Tersesat Dari Jalan Allah

Kaum muslimin rahimakumullah.. Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan... Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. (Al-Ahzab : 56) Kaum Muslimin rahimakumullah.. Di akhir zaman seperti sekarang ini banyak hal terjadi yang sulit dicerna oleh akal sehat kita. Di antaranya ialah kaum Muslimin seakan berlomba meninggalkan ajaran Islamnya. Mereka lebih suka menjalankan ajaran ciptaan manusia dan peninggalan nenek moyang, ketimbang sistem ciptaan Allah, Pencipta mereka sendiri. Padahal jelas semua ajaran itu tidak akan dapat menyelamatkan diri baik di dunia apalagi di akhirat. Hanya sistem ciptaan Allah yang mampu menjamin keselamatan manusia di dunia dan juga akhirat kelak. Allah berfirman: Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai dien (sistem hidup), maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran : 85) Di tingkat Penguasa dan pemerintah negeri-negeri Muslim yang masih mengaku Muslim, dengan berbagai dalih, mereka malah memerangi Islam, ajarannya dan para penyeru Islam dengan terang-terangan. Lebih menyedihkan lagi, para pejuang Islam dan para da’i yang dulunya mati-matian menyebarkan nilai-nilai Islam tak sedikit yang telah berubah orientasi. Di mata mereka, Islam bukan lagi hal yang menarik untuk dijadikan jalan hidup dan sistem hidup yang akan mengatur detil-detil kehidupan di dunia ini. Mereka tanpa malu mencari dan menerapkan jalan lain selain Islam yang digunakan untuk mengatur semua aspek kehidupan di dunia ini, kendati terkadang masih memakai nama dan baju Islam. Sesungguhnya meyakini kebenaran Islam dan memahami ajarannya dengan baik belum cukup sebagai bukti keimanan dan keislaman kita. Keyakinan dan pemaham tersebut menuntut perjuangan yang tak kenal henti dan tak kenal menyerah dan kompromi sampai titik darah penghabisan. Karena hakikat dakwan dan perjuangan dalam Islam bukanlah penguasaan atas berbagai fasilitas kehidupan seperti, kedudukan, harta, dan sekeping tanah tertentu, melainkan ketaatan yang mutlak kepada apa saja perintah Allah, baik dalam bentuk amar (perintah) maupun nahyi (larangan). Itulah puncak tauhid ubudiyah seorang Muslim. Itu pulalah yang membedakan antara Muslim yang berdakwah dan berjuang karena Allah dan yang berdakwah dan berjuang karena harta dan kedudukan. Perjalanan dakwah yang sudah berumur lebih 14 abad itu mengajarkan kepada kita bahwa istiqomah fi thariqillah (konsisten di jalan Allah) dan tsabat fi sabiliddakwah (kokoh di jalan dakwah) serta ‘adamul isti’jal wal intifa’ minaddakwah (tidak tergesa-gesa dan tidak memanfaatkan dakwah untuk kepentingan duniawi) adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh para du’at ilallah. Orang-orang yang tidak istiqomah, tidak tsabat serta isti’jal dan memiliki sifat intifa’ dalam meniti jalan dakwah akan mudah tersesat dari jalan dakwah yang lurus bila menghadapi berbagai ujian dan cobaan, khususnya cobaan keduniaan berupa harta dan kekuasaan. Ketersesatan itu akan semakin jauh dan nyata apabila dakwah itu dijadikan sumber meraup keuntungan dunia berupa pangkat, kedudukan, harta, status sosial dan berbagai plakat dunia lainnya. Sebab itu Rasul Saw. mengajarkan kepada kita doa agar tetap dalam hidayah-Nya dan mampu melihat dan menghindari kebatilan agar tidak tersesat dari jalan Allah, seperti yang dituiskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menjelaskan ayat 214 dari surat Al-Baqoroh: Yaa Allah. Perlihatkanlah kepada kami yang Hak itu adalah Hak dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan mengkutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami yang Bathil itu adalah Bathil dan anugerahkanlah kepada kami taufik untuk menghindarinya. Janganlah Engkau jadikan kebathilan itu samar di mata kami, nanti kami bisa tersesat (dari jaln-Mu). Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Kaum Muslimin rahimakumullah.. Sebagaimana Hidayah ada sebab pemberiannya, maka Dholalah (Kesesatan) juga ada sebabnya. Penyebabnya bisa karena tergiur dan tertipu oleh godaan setan dan bisa juga kerena dorongan syahwat dalam diri sendiri, sperti : 1. Mengingkari (Kufur) dan menyekutukan (syirik) Tuhan Pencipta serta menolak agama-Nya yang bersih dari ajaran syirik, seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya : “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Q.S. Az-Zumar: 3) 2. Merubah aturan hidup yang ditetapkan Allah, (menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah), seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya : Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. Attaubah: 37) 3. Berbuat zalim dengan mengingkari Tuhan Pencipta atau bersikap sebagai Tuhan, seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhan Penciptanya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Baqarah: 258) Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/21/hindarilah-kebathilan-agar-tidak-tersesat-dari-jalan-allah

Beribadahlah Hanya Untuk Allah Semata

Ayat Makkiyah (surah-surah al-Qur’an yang diturunkan di Makkah) merupakan garis aqidah yang menjadi pusat seluruh inti dari ajaran Islam, di mana ia menjadi poros aqidah, dan tempat berputarnya manhaj Rabbani untuk kehidupan umat manusia, baik yang bersifat global atau detilnya. Al-Qur’an Makkiyah telah melahirkan generasi pertama (assabiqunal awwalun), yang bersama-sama dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Seperti surah Hud yang hakikat utamanyaadalah dalam muqadimahnya, yang memaparkan kandungan al-Qur’an itu kepada Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa salllam, dalam kisahnya menjelaskan dengan sangat gamblang tentang pergerakan aqidah sepanjang sejarah umat manusia, dan bagaimana Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ketika menghadapi orang-orang musyrik dengan pandangan yang sangat final. Alur surah Hud itu fokus dalam perintah ibadah kepada Allah semata, dan larangan beribadah kepada selain-Nya. Penegasan ini adalah inti agama (Islam) secara keseluruhan, serta realisasi janji dan ancaman, hisab dan pembalasan, pahala dan siksa, yang bersifat komprehensif dan menyeluruh. Tidak ada lagi sesuatu yang disembunyikan sikap terhadap orang-orang musyrik dan para penyembah berhala. Inilah adalah hukum yang bersifat final. Hakikat pentauhidan ibadah hanya untuk Allah, hal ini seperti digambarkan di dalam dua ayat dibawah ini. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain dia”. (QS. Hud : 50) “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari Nya”. (QS. Hud : 2) Makna bentuk kalimat (ayat) pertama (QS. Hud, 50), berupa perintah beribadah kepada Allah dan penegasan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sedangkan makna bentuk ayat kedua (QS. Hud, 2), merupakan larangan beribadah kepada selain Allah, makna bentuk kalimat kedua adalah manka tersirat (implisit) dari makna bentuk kalimat pertama. Bentuk kalimat pertama bersifat eksplisit,sedangkan bentuk kedua adalah bentuk mafhum (implisit). Al-Qur’an Makkiyah dengan sangat gamblang menegaskan, bahwa pertama, beribadah kepada Allah dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Kemudian, memberikan pengertian bahwa jiwa manusia menghajatkan nash yang tegas tentang kedua sisi hakikat ini – tidak cukup perintah beribadah kepada Allah semata, tetapi adanya penegasan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan adanya larangan yang tegas untuk beribadah selain-Nya. Karena, hakikatnya sepanjang selalu terjadi manusia tidak menolak beribadah kepada Allah, dan tidak mengingkari-Nya, tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga menyembah dan beribadah kepada selain-Nya. Ini ironi dan tragedi yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Baik di masa lalu maupun di masa kini. Hakikatnya Al-Qur’an itu, mengungkapkan tentang hakikat tauhid itu ada dalam dua bentuk. Yaitu perintah dan larangan. Supaya yang satu menguatkan yang lain, yang akan menghilangkan segala celah yang mungkin bisa dimasuki kemusyrikan dalam suatu bentuk diantara bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Allah berfirman : “Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. (Q.S. An-Nahl, 51). Al-Qur’an Makkiyah ini menjadi pedoman yang bersifat final, di mana hanya dibolehkan menyembah kepada Allah semata. Tidak layak makhluk melakukan penyelewengan aqidah dengan menyembah selain-Nya. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, yang memusuhi agama Allah, dan selalu membawa kehidupan ke dalam kegelapan dan kehancuran, karena sikap kemusyrikan mereka. Wallahu’alam. Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/20/beribadahlah-hanya-untuk-allah-semata

Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu

Al-Qur’an surah Al-A’raf selain memberitahukan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam agar tidak sesak nafas ketika melangsungkan dakwah, dan menghadapi kaumnya, yang ingkar dan menolak ajakannya agar beriman, dan menerima sepenuhnya Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah minhaj Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak (final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia). Meskipun, banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS. Al-A’raf : 2, 3). Tetapi seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya. Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5) Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul. Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya. Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13) Makhluk yang diciptakan oleh Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22). Selanjutnya, kisah Nabi Nuh As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf : 59, 60, 64). Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71). Kisah berikutnya, kaumnya Nabi Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud luluh lantak. Kisah Nabi Luth As, yang kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka. (QS. Al-A’raf : 80, 81, 84). Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/19/belajarlah-dari-kehancuran-kaum-terdahulu

Tidak Menyimpang dari Jalan Dakwah

Kita telah mengetahui marhalah dan peringkat yang sedang dilalui oleh dakwah Islam dan jenis usaha dan amal yang sungguh-sungguh yang dikehendaki oleh tahap dan peringkat ini. Yaitu, menyediakan generasi Islam yang beriman, yang menegakkan syakhsiah Islam untuk mengubah realitas yang batil dan menegakkan kembali syariat Islam, syariat Allah. Tuntutan yang asas pada hari ini ialah menyediakan dasar (pijakan) mukmin yang kokoh yang di atasnya dibina bangunan Islam yang agung. Generasi Islam yang merupakan dasar yang kokoh itu dapat dilahirkan di alam nyata dengan memperbaiki diri lalu membangun rumahtangga Islam. Kemudian, mereka menyeru manusia supaya memperbanyak individu dan rumahtangga muslim dengan cinta-mencintai berasaskan kepada konsep persaudaraan karena Allah. Mereka ini kemudiannya bercantum dan diikat menjadi satu generasi Islam yang baru muncul yang menjadi teras dan dasar yang kukuh dan beriman yang sangat diperlukan untuk membina bangunan Islam ini. Tetapi di sana ada beberapa banyak penyeleweng dakwah yang berusaha memalingkan para pendukung dakwah karena Allah dari usaha yang sungguh-sungguh ini. Ataupun memalingkan mereka dari jalan dakwah Islam supaya usaha dan tenaga hanya ditumpukan kepada urusan sampingan atau perkara cabang sama ada dengan niat baik atau sebaliknya. Tanpa disedari, ini boleh menghancurkan segala usaha-usahanya dan tidak menolongnya langsung. Pengarahan yang bersimpang-siur dan tidak bersatu akan menyusahkan kita untuk membuat kerja-kerja Islam atau boleh jadi terhenti langsung. Angkatan muda Islam yang berkobar-kobar semangatnya boleh jadi mudah tertarik kepada tindakan yang demikian sekiranya mereka tidak berwaspada, tidak teliti dan tidak menjauhkan diri daripadanya. Kita akan cuba memberi penjelasan lebih lanjut di dalam perkara ini. Urusan Kulliah dan Juz'iah Di sana ada urusan kulliah (urusan pokok) dan urusan juz'iah (urusan cabang). Urusan kulliah ialah urusan Islam, mengembalikan semula muslim kepada Islam yang sahih, menegakkan syariat Allah, undang-undang Islam, membentangkan daulah Islam, kekuasaan Allah dan kekuasaan agama Allah di bumi. Di sana ada juga urusan juz'iah atau urusan cabang di dunia Islam yang perlu dirawat dan dibereskan. Perkara yang sengaja ditimbulkan dan ditonjolkan oleh musuh-musuh luar atau musuh-musuh dalam. Apabila kita memberikan sepenuh perhatian kepada urusan juz'iah semata-mata dengan segala usaha dan tenaga yang ada pada kita sekarang maka kita tidak akan mampu menyelesaikannya. Tindakan sedemikian memalingkan kita dari usaha asasi yang sangat diperlukan oleh peringkat ini, yaitu mempersiapkan dasar yang kukuh dari generasi yang beriman dan yang bersatu padu. Jadi, masalah ini menuntut supaya kita memberikan sebagian usaha waktu kita kepada jurusan juz'iah itu, di samping itu kita mesti berusaha bersungguh-sungguh dan terus membuat persiapan untuk urusan pokok dan asasi. Karena apabila urusan pokok ini dapat kita realisasikan maka segala urusan juz'iah dapat kita bereskan dengan mudah. Insya Allah. Perkara penting dan perlu diperhatikan bersama, bahwa para pendukung dakwah, para duat kepada Allah yang sedang berada di dalam peringkat dakwah dan persiapan untuk mendirikan daulah Islam tidak boleh mengambil alih semua tanggungjawab, padahal tanggungjawab yang demikian hanya tanggungjawab khusus kepada negara dan daulah Islam apabila ia tegak nanti. InsyaAllah. Kita perlu senantiasa ingat dan sadar bahwa amal jama'i yang sistematik, terancang, yang telah diperkuat oleh syura dan beriltizam dengan syariat Islam itulah yang wajib, paling selamat, paling sempurna dari amal perseorangan yang tidak terkawal serta dicetuskan oleh semangat yang berkobar-kobar tanpa melihat akibatnya. Oleh itu kita dapat menjamin bahwa di sana tidak ada perkara yang boleh mengelirukan usaha para petugas dan para pekerja di bidang dakwah dengan berbagai urusan juz'iah tanpa panduan dan perancangan yang sistematik. Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/18/tidak-menyimpang-dari-jalan-dakwah

Konsep Tarbiyah Akhlak dalam Al-Quran

Pemilihan gaya bahasa disesuaikan dengan tingkat pengetahuan umum manusia, sekalipun mereka berbeda lingkungan, wawasan dan zaman. Bukanlah merupakan sarana yang baik, jika gaya bahasa dakwah dan pengajian hanya cocok untuk satu kalangan dan tidak cocok untuk kalangan yang lain. Ini adalah syarat paling berat dalam konsep tarbiyyah yang mampu menyentuh seluruh lapisan masayarakat manusia, betapa banyak da'i yang gagal dalam dakwahnya, dilihat dari sisi konsep dan bahasanya, karena mereka tidak menguasai artikulasi bahasa dan orasi yang menyentuh level umum pemahaman pendengar maupun para peserta didik. Dari sisi ini kita melihat fenomena mujizat yang agung dalam Al Quran, karena kitab ini mampu berdialog bersama pembaca dan pendengarnya dengan sarana bahasa yang sesuai dengan level pemahaman mereka, semua lapisan masyarakat, tanpa meninggalkan jejak cacat dalam pemahaman ataupun kontradiksi di antara beberapa pemahaman. Bukan berarti kami mengeluarkan jaminan pasti, bahwa semua anak manusia mampu mencerna isi Al Quran tanpa proses belajar dan mengkaji, namun kami katakan ini akan terjadi jika mereka semua memiliki kemampuan yang sama dalam memahami kaidah-kaidah dan gaya bahasa arab. Semua akan memiliki pemahaman yang sama tentang maksud kitab ini, setelah mereka sama-sama memiliki kemampuan bahasa arab sebagai sarana belajar dan kajian mereka terhadap kitab Al Quran. Cobalah kita perhatikan firman Allah Swt : “Bukankah kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, Orang-orang hidup dan orang-orang mati. Dan kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan kami beri minum kamu dengan air tawar?” (QS. Al Mursalat : 25-27) Renungkan kata “Kifata” yang memiliki makna menarik dan mengumpulkan, kita bisa lihat dalam sebuah bait syair: Mereka mulia ketika lubang-lubang itu menarik ular-ular bersembunyi karena udara dingin yang menusuk Ayat ini memberikan gambaran tentang bumi sesuai dengan level pemahaman orang arab badui, di mana mereka memahami dari ayat ini, bumi adalah mirip seperti wadah yang mampu menjaga dan mengamankan segala hal yang ada di dalamnya, ini adalah pemahaman yang benar, karena memang seperti itulah kenyataannya. Gambaran ini sama persisi dengan penelitian para ilmuwan dan peneiti bumi dan antariksa, seorang ilmuwan yang bernama Tsabit bin Qurrah (221-228) menyatakan bahwa manusia bisa menetap di bumi ini karena adanya kekuatan tersembunyi yang menariknya. kalau bukan karena kekuatan ini, maka manusia tidak akan mungkin bisa menetap di bumi, kekuatan ini belakangan kita kenal dengan daya gravitasi bumi. Tidak ada kata yang mampu menjembatani pemahaman tradisional seorang baduwi dengan penemuan para ilmuwan pada era modern sekarang ini kecuali kata “kifata”. Mari kita perhatikan firman Allah swt berikutnya yang juga menjelaskan satu sisi gambaran bumi: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” (QS. An Naziat : 30-31) Kata “dahaha” dalam bahasa arab artinya adalah menghamparkan, membesarkan dan mebulatkannya, sebagaimana dijelaskan dalam kamus al Muhith. Ketiga makna ini ternyata tercakup dalam realitas bumi, karena bumi bersifat terhampar, besar dan bulat. Seorang badui yang hidup di pedalaman memahami makna yang pertama dan kedua, adapun ahli perbintangan memahami ketiga makna tersebut, jadi tidak ada pertentangan dan kontradiksi antara ketiga makna tersebut dan juga pemahaman orang badui dan ahli perbintangan. Perhatikan firman Allah swt yang menjelaskan gambaran tentang api dan fungsinya dalam kehidupan anak manusia. “Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS. Al Waqiah : 71-73) Kita lihat kata “Muqwiin” yang merupakan bentuk jamak dari “Muqwin” yang berarti orang yang tinggal di padang pasir, orang yang lapar dan orang yang menikmati. Adapun dalil dari makna pertama adalah bait syair di bawah ini: Sungguh aku utamakan orang pada pasir yang lapar Agar tidak digelari sebagai orang yang pelit Seorang arab badui akan memahami makna yang pertama, karena api adalah nikmat bagi orang-orang yang tinggal di padang pasir, karena api itu menerangi rumah-rumah dan lingkungan mereka, sekaligus menjadi penerang tempat mereka berkumpul. Adapun kalangan awam yang tinggal di kota akan mudah memahami makna yang kedua, karena bagi mereka api berfungsi sebagai sarana untuk memasak makanan mereka, bagi mereka api adalah barang yang sangat penting bagi “muqwin” yang artinya orang yang lapar. Adapun makna ketiga adalah ungkapan tentang kartu terbuka yang menunggu perkembangan zaman dan waktu, tidak ada aneka fungsi api yang di temukan oleh kemajuan dan ilmu kecuali telah dijelaskan secara jelas oleh kata muqwin dalam ayat tersebut di atas, makna ketiga ini pasti difahami secara otomatis oleh setiap orang yang tinggal di kota. Perhatikan salah satu ayat yang menjelaskan gambaran tentang matahari dan rembulan dengan karakteristiknya masing-masing, Allah swt berfirman: “Yang Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (QS. Al Furqan : 61) Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (QS. Nuh : 15-16) “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus : 5) Kita melihat ketiga ayat menjelaskan matahari sebagai “siraj” lampu pelita sekaligus juga penerang, dan bulan sebagai “nur” cahaya dan penerang, ini adalah gambaran detail yang menyentuh seluruh makna yang difahami oleh seluruh lapisan masyarakat, sesuai dengan wawasan dan level pemahaman mereka. Adapun orang badui yang ada di pedalaman memahami kedua gambaran di atas dengan baik, bahwa keduanya memilki kesamaan dalam memberikan penerangan kepada manusia secara mutlak, karena kata siraj dan nur memiliki makna yang sama yaitu sebagai penerang. Namun orang-orang yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan luas memahami bahwa keduanya memiliki makna yang sama sebagai penerang, hanya saja matahari selain menerangi ia juga membawa hawa panas, adapun bulan memberi cahaya yang tidak ada panasnya. Karena sesuatu tidak akan dikatakan sebagai siraj kecuali selalu disertai dengan panas. Adapun ahli perbintangan atau yang mengenali dengan dalam tabiat matahari dan bulan, mereka memahami dua gambaran di atas, apabila mereka tahu bahasa arab. Sesungguhnya ayat-ayat di atas memberikan penjelasan bahwa matahari memberikan penerangan dari dalam dirinya sendiri, adapun bulan cahayanya adalah hasil pantulan sinar yang ditangkapnya, ini adalah perbedaan kata yang sangat detail dan teliti, kita tidak menyebut kamar kita dengan siraj karena ia memberikan cahaya atau sinar, tapi kita katakan cahaya kamar adalah pancaran cahaya lampu yang menyinari dari dalam dirinya sendiri, siraj memancarkan sinar dan cahaya dari dirinya sendiri. Sumber : http://www.al-idrisiyyah.com/read/article/17/konsep-tarbiyah-akhlak-dalam-al-quran
 

Pengumuman

Safari Dakwah
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog alidrisiyyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger